UNNES Gelar Festival Dolanan Anak dan Folklore 2026, Permainan Tradisional Jadi Sarana Pendidikan Karakter

Selain menjadi ajang kreativitas anak-anak, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan karakter serta pelestarian budaya lokal di tengah derasnya perkembangan era digital.

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:29 WIB
UNNES Gelar Festival Dolanan Anak dan Folklore 2026, Permainan Tradisional Jadi Sarana Pendidikan Karakter

WAWASAN.NEWS SEMARANG – Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan seni dan budaya melalui penyelenggaraan Festival Dolanan Anak dan Folklore 2026 yang digelar di Kampung Budaya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNNES, Selasa (19/5/2026). 

Kegiatan ini diikuti 16 sekolah dasar di Kota Semarang dan diharapkan menjadi agenda tahunan kampus konservasi tersebut.

Festival yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari itu menghadirkan berbagai permainan tradisional, pertunjukan folklore, lomba ketapel, tari tradisional, hingga nyanyian lagu daerah.

Selain menjadi ajang kreativitas anak-anak, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan karakter serta pelestarian budaya lokal di tengah derasnya perkembangan era digital.

Kasubdit Konservasi UNNES sekaligus Ketua Panitia Festival Dolanan Anak 2026, Prof. Dr. Nana Kariada Tri Martuti mengatakan, festival ini merupakan bagian dari implementasi visi konservasi yang dimiliki UNNES.

“Insya Allah ini menjadi agenda tahunan Universitas Negeri Semarang. Karena UNNES punya visi selain internasional dan pendidikan bereputasi, juga konservasi. Salah satu dari tiga pilar konservasi itu adalah seni dan budaya. Maka melalui Festival Dolanan Anak dan Folklore ini kami ingin mengenalkan kembali budaya kepada generasi muda,” ujarnya.

Menurutnya, pengenalan permainan tradisional kepada anak-anak sangat penting untuk membangun interaksi sosial dan karakter positif sejak dini.

“Harapannya selain pengenalan kembali budaya, juga ada penguatan nilai karakter, sportivitas, kreativitas, inovasi, dan gotong royong. Sekarang era digital luar biasa, kami ingin anak-anak tidak hidup sendiri dengan gadgetnya, tetapi bisa lebih banyak berinteraksi dengan teman dan lingkungannya,” jelas Prof Nana.

Ia menilai permainan tradisional mampu menjadi media efektif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai.

“Dengan kegiatan seperti ini mudah-mudahan anak-anak tidak hanya asyik dengan gadgetnya sendiri, tetapi lebih aktif bersosialisasi dan mengenal budaya daerah,” tambahnya.

Dalam festival tersebut, panitia juga memberikan penekanan pada penggunaan Bahasa Jawa sebagai bentuk pelestarian bahasa ibu, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

“Di sini juga ada penekanan penggunaan Bahasa Jawa. Karena ini di Kota Semarang, bahasa ibu perlu dikenalkan kembali kepada anak-anak. Tidak masalah menggunakan Bahasa Jawa ngoko, yang penting mereka mengenal dan terbiasa menggunakan bahasa daerah,” katanya.

Festival tahun ini menghadirkan konsep berbeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya.

Jika tahun lalu lebih banyak berfokus pada olahraga tradisional, kali ini panitia memperluas tema ke aspek folklore dan seni budaya Nusantara.

“Kalau tahun kemarin lebih banyak olahraga tradisional dengan lima permainan, tahun ini kami mencoba variasi baru yang lebih menonjolkan budaya. Peserta bebas menampilkan dolanan anak, permainan tradisional, nembang, hingga berbagai bentuk budaya lainnya,” terang Prof Nana.

Dalam lomba folklore, setiap kelompok diberi durasi maksimal 15 menit untuk menampilkan kreativitas mereka di atas panggung Kampung Budaya FBS UNNES.

Penilaian dilakukan berdasarkan kekompakan, ekspresi dan penghayatan, kreativitas, serta originalitas penampilan.

“Penilaiannya meliputi kekompakan, ekspresi penghayatan, kreativitas, dan originalitas,” ujarnya.

Panitia juga melibatkan sejumlah akademisi dan praktisi seni budaya sebagai dewan juri.

Selain lomba folklore, festival juga menghadirkan lomba ketapel yang digelar di halaman depan Gedung Arsip UNNES.

Perlombaan tersebut dibagi dalam kategori putra, putri, dan ganda.

“Untuk apresiasi tentu ada hadiah uang pembinaan, sertifikat, dan piala bagi juara satu sampai tiga. Khusus lomba ketapel ada kategori putra, putri, dan ganda,” katanya.

Festival Dolanan Anak 2026 dimulai sejak pukul 06.30 WIB dengan registrasi peserta folklore dan lomba ketapel.

Sebanyak sembilan kelompok tampil dalam lomba folklore yang berlangsung di Panggung Kampung Budaya.

Setelah rekapitulasi nilai, acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan penutupan, di antaranya penampilan PAUD Sekar Nagari, Tari Ye Ye bertema dolanan tradisional lompat tali dari SD Labschool, serta penampilan lagu daerah “Cublak-Cublak Suweng” oleh Alesha Fitri Inara Sakhi.

Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah.

***

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI