Teater Bhumandala Hidupkan Tradisi Semuan di Panggung SMA Negeri 5 Semarang

Rabu, 13 Agustus 2025 - 10:41 WIB
Teater Bhumandala Hidupkan Tradisi Semuan di Panggung SMA Negeri 5 Semarang

WAWASAN.NEWS, Teater Bhumandala dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (UPGRIS) Semarang baru-baru ini sukses menggelar pementasan drama berjudul “Semuan” karya Firza Yudha Arinanto, yang sekaligus bertindak sebagai sutradara. 

Pementasan ini berlangsung di SMA Negeri 5 Semarang dan berhasil memukau para siswa hingga akhir pertunjukan.

Dalam pementasan ini, sejumlah pemeran tampil memikat: Silvia memerankan tokoh Sandiem, Farah sebagai Pitaloka, Sahra sebagai Marni, Fajar sebagai Damar, Laila sebagai Mbah Dukun, dan Alif sebagai Yatno.

Seluruh proses produksi berada di bawah pimpinan Bayu.

Performa apik para pemain membuat suasana drama terasa hidup, sehingga penonton larut dalam alur cerita.

Kisah Damar dan Tradisi Semuan

Naskah “Semuan” bercerita tentang Damar, seorang mahasiswa filsafat berpostur tegap dan berkulit kuning langsat yang baru kembali dari perantauan.

Ia berasal dari Dusun Kendungo, sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Cilacap, tempat ia tumbuh besar. 

Pendidikan filsafat yang ditempuh di Universitas PGRI membentuk Damar menjadi pribadi yang berpikir rasional dan logis, sehingga menolak segala bentuk kepercayaan mistis.

Di sisi lain, sang ayah, Pak Yatno—yang juga Kepala Dusun Kendungo—adalah sosok yang memegang teguh adat istiadat dan tradisi leluhur.

Perbedaan pandangan ini sering memicu perdebatan antara ayah dan anak, bahkan dalam hal-hal sederhana. 

Sandiem, ibu Damar, menjadi sosok penengah yang lembut dan ramah, selalu berusaha menjaga keharmonisan di tengah perbedaan tersebut.

Kepulangan Damar bertepatan dengan malam satu Suro, saat warga Dusun Kendungo menggelar ritual tahunan Semuan.

Tradisi ini berupa larung sesaji di laut, dengan mengorbankan kepala kerbau beserta kembang tujuh rupa sebagai persembahan kepada Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan.

Pesan Moral dari Pementasan

Melalui kisah ini, pementasan “Semuan” tidak hanya mengangkat keindahan tradisi lokal, tetapi juga menyoroti perbedaan sudut pandang antara generasi lama yang menjunjung adat dan generasi muda yang mengedepankan rasionalitas.

Satria, salah satu siswa SMA Negeri 5 Semarang yang menyaksikan pementasan, mengungkapkan pandangannya.

“Jika terlalu percaya dengan hal yang berbau takhayul maka akan menjadi orang yang berpengaruh negatif,” ujarnya.

Firza Yudha Arinanto, penulis naskah sekaligus sutradara, merasa bangga karyanya dapat dipentaskan untuk pertama kalinya di Semarang.

 “Semoga pementasan ini menjadi pesan moral yang bisa dinikmati oleh para siswa,” tuturnya.

Menjaga Warisan Budaya Lewat Seni

Pementasan “Semuan” menjadi bukti bahwa seni teater dapat menjadi media efektif untuk memperkenalkan tradisi leluhur kepada generasi muda.

Melalui panggung, nilai-nilai budaya tidak hanya diceritakan, tetapi dihidupkan kembali agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Dengan pengemasan yang menarik dan akting yang memukau, Teater Bhumandala telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga warisan budaya, sekaligus mengajak penonton untuk berpikir kritis terhadap perbedaan pandangan antara kepercayaan tradisional dan pemikiran modern.

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI