Dies Natalis ke-62, Politeknik Bumi Akpelni Perkuat Pendidikan Kemaritiman Berbasis Industri
Industri membutuhkan lulusan yang bukan hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengoperasikan teknologi serta menerapkan keterampilan sesuai kondisi lapangan.
WAWASAN.NEWS, Enam dekade lebih perjalanan Politeknik Bumi Akpelni (PBA) menjadi momentum untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia di sektor pelayaran, kemaritiman dan logistik.
Memasuki usia ke-62, PBA menegaskan komitmennya untuk terus menyesuaikan proses pendidikan dengan perubahan kebutuhan industri. Hal tersebut disampaikan dalam puncak Dies Natalis ke-62 PBA yang diisi dengan upacara dan apel taruna.
Kegiatan tersebut dipimpin Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof Dr Aisyah Endah Palupi, sebagai inspektur upacara.
Kehadiran Prof Aisyah dalam kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang PBA dalam mengembangkan pendidikan di bidang kemaritiman.
Prof Aisyah menyampaikan ucapan selamat kepada PBA yang telah mencapai usia 62 tahun. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut menunjukkan kematangan institusi sekaligus memperlihatkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan yang diselenggarakan.
"Saya sampaikan selamat untuk Kampus PBA, dan di tengah usianya yang semakin matang menjadi pilihan banyak orang melanjutkan studi ke perguruan tinggi," ujar Prof Aisyah didampingi Direktur PBA, Capt Cahya Fajar Budi Hartanto MMar MSi.
Pendidikan Maritim Dinilai Tetap Strategis

Prof Aisyah menilai kebutuhan terhadap pendidikan pelayaran dan kemaritiman akan terus ada. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat sektor tersebut memiliki posisi penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan konektivitas antardaerah.
"Kita semua tahu Indonesia adalah negara kepulauan, kondisi ini menjadikan pendidikan di bidang pelayaran dan kemaritiman sangat dibutuhkan dari waktu ke waktu," katanya.
Ia pun mengingatkan para taruna untuk tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama berada di bangku kuliah.
Perubahan teknologi yang berlangsung cepat menuntut mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Teknologi informasi dan digitalisasi kini semakin masuk ke berbagai aktivitas kemaritiman. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal penting bagi lulusan ketika memasuki dunia profesional.
Prof Aisyah berharap lulusan PBA mampu memberikan kontribusi lebih luas setelah menyelesaikan pendidikan.
"Keinginannya lulusan Politeknik Bumi Akpelni tidak hanya menjadi yang terbaik, melainkan melakukan perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju," tuturnya.
Para lulusan diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pengembangan sektor pelayaran dan kemaritiman nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Prof Aisyah juga mengungkapkan rasa bangga ketika memimpin upacara dengan mengenakan seragam kebesaran perwira maritim dan pelayaran.
Menurutnya, momentum tersebut diharapkan dapat menumbuhkan semangat para taruna untuk menekuni profesi di sektor kemaritiman.
PBA Fokus pada Tiga Aspek
Sementara itu, Direktur PBA Capt Cahya Fajar Budi Hartanto mengatakan pengembangan kampus saat ini diarahkan pada tiga aspek, yaitu kompetensi, sinergi dan inovasi.
Kompetensi menjadi dasar penting karena lulusan harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidang profesinya.
Sejak menjalani pendidikan, para taruna dibekali pengetahuan dan teknologi modern agar memiliki kesiapan ketika nantinya memasuki dunia kerja.
"Kompetensi erat kaitannya dengan keunggulan dan kemampuan yang memadai, mendukung berbagai tugas keprofesian," jelas Capt Cahya Fajar.
Selain meningkatkan kompetensi, PBA juga memperkuat hubungan dengan berbagai pihak.
Jejaring tersebut dibangun tidak hanya dalam lingkup regional dan nasional, tetapi juga diarahkan ke tingkat global.
Salah satu bentuk kerja sama yang dilakukan PBA adalah menggandeng Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia/Indonesian Logistics and Forwarders Association (ALFI/ILFA).
Organisasi tersebut merupakan asosiasi yang menaungi pelaku usaha di sektor jasa logistik, freight forwarding dan kepabeanan di Indonesia.
Kerja sama dengan asosiasi industri menjadi salah satu cara PBA untuk mempertemukan kebutuhan pendidikan dengan perkembangan dunia profesional.
Dunia Kerja Semakin Membutuhkan Lulusan Siap Pakai
Perubahan industri juga menjadi alasan PBA terus mengembangkan inovasi dalam pembelajaran.
Capt Cahya Fajar menjelaskan, perkembangan dunia pelayaran kini berlangsung semakin cepat. Digitalisasi tidak hanya berpengaruh terhadap operasional kapal, tetapi juga merambah sektor pendukung seperti administrasi dokumen, pergudangan dan sistem logistik.
Situasi tersebut membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kemampuan adaptasi teknologi semakin meningkat.
Industri membutuhkan lulusan yang bukan hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengoperasikan teknologi serta menerapkan keterampilan sesuai kondisi lapangan.
Karena itu, muncul kebutuhan terhadap lulusan dengan konsep plug and play, yakni memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka langsung bekerja tanpa harus mendapatkan pelatihan panjang dari perusahaan.
"Plug and play, sehingga ketika lulus tidak perlu dilatih dan siap bekerja," ujar Capt Cahya Fajar.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PBA berupaya menghadirkan fasilitas pembelajaran yang menyerupai kondisi industri.
Kampus menyediakan mesin simulator serta berbagai peralatan dan aplikasi terbaru yang dapat digunakan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Fasilitas tersebut memungkinkan taruna memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan situasi yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia profesional.
Sinergi Pendidikan dan Industri Terus Diperluas
Pengembangan sarana pembelajaran juga berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas tenaga pengajar.
PBA terus mendorong peningkatan kualitas dosen agar proses pendidikan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan industri.
Menurut Capt Cahya Fajar, kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri menjadi salah satu bagian penting dalam membangun pendidikan kemaritiman yang relevan.
Melalui jejaring tersebut, kampus dapat memperoleh gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan industri sekaligus membuka ruang pengembangan pengalaman bagi para taruna.
Sinergi dengan asosiasi seperti ALFI/ILFA menjadi salah satu langkah untuk memperkuat hubungan antara pendidikan kemaritiman dengan sektor logistik dan forwarding.
Di tengah perkembangan teknologi digital, kolaborasi semacam itu dinilai semakin penting agar lulusan tidak tertinggal dari perubahan yang terjadi di dunia kerja.
62 Tahun Perjalanan dan Tantangan ke Depan
Puncak Dies Natalis ke-62 PBA bukan hanya menjadi perayaan perjalanan institusi, tetapi juga momentum untuk melihat tantangan pendidikan kemaritiman ke depan.
Kebutuhan tenaga profesional di sektor pelayaran, logistik dan kemaritiman terus berkembang seiring perubahan teknologi dan dinamika industri.
PBA berupaya merespons perubahan tersebut melalui penguatan kompetensi taruna, perluasan jejaring kerja sama, peningkatan kualitas dosen serta penyediaan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan di PBA diarahkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga tenaga profesional yang mampu beradaptasi dengan perkembangan industri.
Memasuki usia 62 tahun, PBA pun melanjutkan perjalanan dengan memperkuat pendidikan yang terhubung dengan kebutuhan dunia kerja.
Para taruna diharapkan dapat menjadi bagian dari sumber daya manusia yang menopang sektor pelayaran, kemaritiman dan logistik nasional, sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
***



