UPGRIS dan Sanggar Ponokawan Perkuat Pelestarian Budaya Lewat Pelatihan Tembang dan Karawitan bagi Generasi Muda
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan Sanggar Ponokawan Semarang dalam kegiatan bertajuk “Optimalisasi Sanggar Ponokawan Semarang melalui Pelatihan Tembang dan Karawitan sebagai Upaya Internalisasi Budaya pada Generasi Muda.
WAWASAN.NEWS, SEMARANG – Pelestarian seni dan budaya tradisional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar tetap hidup dan berkembang di tengah pesatnya arus modernisasi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan Sanggar Ponokawan Semarang dalam kegiatan bertajuk “Optimalisasi Sanggar Ponokawan Semarang melalui Pelatihan Tembang dan Karawitan sebagai Upaya Internalisasi Budaya pada Generasi Muda.”
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara UPGRIS dan Sanggar Ponokawan yang selama ini memiliki perhatian besar terhadap pengembangan dan pelestarian seni tradisi Jawa.
Selain menjadi wadah berbagi ilmu dan pengalaman, program tersebut juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat regenerasi pelaku seni tradisional di kalangan generasi muda.
Program ini diketuai oleh Dr. Riris Setyo Sundari, S.Pd., M.Pd., dengan anggota tim Prasena Arisyanto, M.Pd. dan Dr. Bambang Sulanjari, M.A.

Melalui kegiatan tersebut, para akademisi UPGRIS turun langsung mendampingi anggota sanggar dalam mempelajari tembang dan karawitan sebagai bagian dari upaya internalisasi budaya.
Dr. Riris Setyo Sundari menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis memainkan alat musik tradisional, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.
"Yang kami harapkan bukan sekadar bisa memainkan gamelan, tetapi anak-anak juga memahami bahwa tembang dan karawitan merupakan warisan adiluhung yang perlu kita lestarikan bersama," ujarnya.
Sanggar Ponokawan yang dipimpin Warsino Taru Puspito selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran seni tradisi di Kota Semarang.
Kiprahnya cukup kuat, khususnya dalam bidang karawitan dan pedalangan. Dari sanggar ini lahir banyak generasi muda berprestasi yang berhasil meraih penghargaan hingga tingkat nasional, terutama dalam bidang pedalangan.
Keberadaan sanggar seni seperti Ponokawan dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya pengaruh budaya populer.

Sanggar menjadi ruang belajar yang memungkinkan generasi muda tidak hanya menyaksikan seni tradisi sebagai tontonan, tetapi juga memahami, mempelajari, dan mempraktikkannya secara langsung.
Dalam kegiatan pelatihan tersebut, anggota Sanggar Ponokawan mendapatkan pembelajaran tembang dan karawitan dengan pendekatan yang lebih mendalam.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah penggunaan gamelan laras slendro dalam pembelajaran karawitan dan tembang.
Pengenalan laras slendro menjadi pengalaman baru bagi para peserta karena memberikan wawasan lebih luas mengenai karakteristik musik tradisional Jawa.
Selama ini, gamelan pelog dan slendro dikenal memiliki karakter bunyi serta nuansa musikal yang berbeda.
Dengan memahami kedua jenis laras tersebut, para anggota sanggar memiliki bekal yang lebih lengkap untuk mengembangkan kreativitas dalam mengiringi berbagai pertunjukan seni tradisional, khususnya wayang kulit.
Pelatihan yang diberikan tidak berhenti pada penguasaan alat musik semata. Para peserta juga diajak memahami fungsi tembang dan karawitan dalam mendukung jalannya sebuah pertunjukan wayang kulit.
Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan para anggota sanggar sebagai pelaku seni tradisi.
Melalui metode tersebut, peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami bagaimana unsur-unsur musik tradisional dapat membangun suasana, karakter, dan alur dalam sebuah pementasan wayang.
Hasil dari proses pelatihan kemudian diwujudkan dalam sebuah pementasan wayang kulit yang menggunakan perangkat gamelan lengkap, baik laras pelog maupun slendro.

Pementasan tersebut menjadi ajang bagi para anggota sanggar untuk menunjukkan kemampuan yang telah mereka peroleh selama mengikuti pelatihan.
Melalui pertunjukan itu, peserta membuktikan bahwa materi yang dipelajari dapat langsung diterapkan dalam praktik berkesenian yang sesungguhnya.
Bagi Sanggar Ponokawan, kolaborasi dengan perguruan tinggi memberikan pengalaman yang sangat berharga. Kehadiran akademisi membuka ruang diskusi dan pembelajaran baru yang dapat memperkaya proses berkesenian yang selama ini berkembang di lingkungan sanggar.
Sementara itu, bagi UPGRIS, kegiatan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui keterlibatan langsung di tengah komunitas seni, kampus dapat berkontribusi dalam menjaga sekaligus mengembangkan seni budaya lokal agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar pelatihan, pertemuan antara dunia akademik dan komunitas seni tradisi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna.
Mulai dari belajar bersama, memainkan gamelan, melantunkan tembang, hingga menampilkan hasil pembelajaran dalam sebuah pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat.
Kerja sama antara UPGRIS dan Sanggar Ponokawan diharapkan terus berlanjut pada berbagai program berikutnya.
Dengan sinergi yang semakin kuat, ruang belajar seni tradisi bagi generasi muda dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak kalangan.
Sebab, menjaga budaya tidak hanya berarti mempertahankan warisan yang telah ditinggalkan para leluhur. Lebih dari itu, pelestarian budaya juga berarti memberikan kesempatan kepada generasi penerus untuk mengenal, mencintai, serta melanjutkan nilai-nilai budaya tersebut agar tetap hidup dan berkembang di masa depan.
***



