Pengabdian Kampung Tematik Lele KATELE Kembangarum sebagai Perwujudan Peningkatan Ekonomi Masyarakat
Kegiatan ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Wilayah Tahun Pendanaan 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
WAWASAN.NEWS, Bertempat di Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, budidaya lele kini tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.
Ikan yang dipelihara di kolam terhubung dengan pembuatan pakan, pengolahan pangan, pemilihan kemasan, pembukuan, pemasaran, hingga pengelolaan limbah.
Rangkaian tersebut menjadi arah penguatan Rintisan Kampung Tematik Lele (KATELE): membangun usaha warga yang lebih produktif, memanfaatkan teknologi, dan tetap memperhatikan lingkungan.
Kegiatan ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Wilayah Tahun Pendanaan 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Program ini merupakan program tahun ketiga (2026), yang diketuai oleh Rizky Muliani Dwi Ujianti (UPGRIS), dengan anggota: Noora Qotrun Nada (UPGRIS), Slamet Budirahardjo (UPGRIS), dan Mohamad Fajarianditya Nugroho (UNAKI).
Kegiatan pelatihan dilakukan dengan pendekatan belajar sambil praktik.
Warga yang tergabung dalam Paguyuban Pembudidaya Ikan Lele Lee Kung, Kelompok Wanita Tani Kembang Asri, PKK Kelurahan Kembangarum, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) terlibat dalam pelatihan, demonstrasi alat, praktik produksi, serta pendampingan.
"Program ini merupakan kolaborasi sinergi antara LPPM UPGRIS, LPPM UNAKI, Pemerintah Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat, dan Dinas Perikanan Kota Semarang," papar ketua tim, Rizky Muliani Dwi Ujianti.
Rintisan KATELE telah dibangun sejak dua tahun sebelumnya melalui pembangunan dan pembangunan kolam budidaya, rumah jamur dan maggot, pemantauan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT), penyiraman otomatis jamur tiram, kincir air tenaga surya untuk aerasi oksigen dalam kolam, pelatihan budidaya, serta pemasaran digital.
Fokus tahun ketiga ini adalah: pengenalan teknologi menuju kemandirian produksi dan tata kelola usaha.
Pakan Lebih Terukur dan Mulai Diproduksi Mandiri
Pemberian pakan merupakan salah satu pekerjaan penting dalam budidaya lele.
Jika waktunya tidak teratur atau jumlahnya berlebihan, biaya produksi dapat meningkat dan sisa pakan berpotensi menurunkan kualitas air.
Karena itu, Paguyuban Lee Kung memperoleh pendampingan penggunaan fish feeder berbasis Internet of Things dan web. Alat ini dirancang untuk mengatur jadwal dan durasi pemberian pakan, sekaligus memantau sisa pakan di dalam wadah melalui sensor.
Informasi operasional dapat dilihat pada layar dan situs pemantauan.
Pelatihannya tidak berhenti pada cara menyalakan alat. Warga mempraktikkan pengisian wadah, pengaturan jadwal, pemeriksaan komponen, pembersihan, perawatan, dan penanganan gangguan sederhana.
Dengan demikian, teknologi dapat dipahami sebagai alat bantu kerja sehari-hari, bukan sekadar perangkat yang diserahkan kepada masyarakat.
Kemandirian pakan diperkuat dengan hibah TTG mesin pelet berkapasitas hingga 150 kilogram per jam, yang diserahterimakan pada bulan Juli 2026.
Dalam sesi praktik, peserta mengenali bahan baku lokal dan bahan hasil samping pertanian yang berpotensi digunakan dalam formulasi pakan. Mereka kemudian belajar menimbang, mencampur, mencetak, mengeringkan, dan menyimpan pelet.
Kolam lele, budikdamber, benih, serta perlengkapan budidaya juga diberikan untuk memperluas keterlibatan warga dan menjaga kesinambungan bahan baku ikan.
Peralatan Pengolahan Diikuti Keterampilan Mengelola Produk
Pada kelompok PKK, kegiatan diarahkan pada peningkatan kapasitas dan konsistensi pengolahan pangan.
Warga berlatih menggunakan meat mixer untuk mencampur adonan, drying oven untuk membantu proses pengeringan, chest freezer untuk menjaga bahan dan produk dalam rantai dingin, serta meja stainless steel yang lebih mudah dibersihkan.
Peserta juga mempraktikkan pembersihan, perawatan, dan keamanan penggunaan alat.
Pemanfaatan peralatan tersebut dipadukan dengan pelatihan diversifikasi pangan berbasis hasil perikanan.
Peserta mengikuti tahapan persiapan bahan, formulasi, pengolahan, pengendalian proses, pengemasan, dan penyimpanan.
Tujuannya bukan hanya menambah jenis produk, tetapi juga membangun kebiasaan produksi yang lebih bersih, seragam, dan dapat diulang.
Kemasan turut menjadi perhatian karena setiap produk memiliki kebutuhan berbeda. Produk kering, beku, dan siap konsumsi memerlukan bahan, ukuran, teknik penutupan, serta informasi label yang sesuai.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan perhitungan biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja, listrik, harga pokok produksi, harga jual, dan keuntungan.
Dengan cara ini, kemasan dipahami bukan semata-mata sebagai pemanis tampilan, melainkan sebagai pelindung produk sekaligus bagian dari pengelolaan usaha.
Keberlanjutan menjadi bagian penting dari kegiatan. Setiap kelompok didorong membentuk operator, penanggung jawab alat, dan jadwal perawatan.
Pendampingan juga diarahkan pada konsistensi produksi, pembukuan rutin, pengelolaan situs rantai pasok, serta pemanfaatan pupuk organik.
Ukuran keberhasilan program pada akhirnya bukan banyaknya alat yang tersedia, melainkan seberapa jauh alat, pengetahuan, dan data menjadi bagian dari kebiasaan kerja warga.
KATELE menunjukkan bahwa ekonomi biru dapat diterapkan dari lingkungan kelurahan. Efisiensi pakan, pengolahan hasil perikanan, rantai dingin, kemasan, pencatatan digital, dan pemanfaatan limbah saling melengkapi dalam satu ekosistem.
Ketika teknologi dipelajari bersama dan dikelola oleh masyarakat, budidaya lele dapat berkembang bagi usaha lokal yang lebih mandiri, bernilai tambah, dan ramah lingkungan.



