Dosen FPMIPATI UPGRIS Edukasi Siswa MA Darul Ulum Sayung melalui Pelatihan Kewirausahaan Microgreen Berbasis Potensi Lokal

Program pelatihan microgreen ini juga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan sekolah berbasis ethnopreneurship, yakni pendekatan kewirausahaan yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai kekuatan utama

Sabtu, 25 April 2026 - 10:01 WIB
Dosen FPMIPATI UPGRIS Edukasi Siswa MA Darul Ulum Sayung melalui Pelatihan Kewirausahaan Microgreen Berbasis Potensi Lokal
tim dosen dari Fakultas Pendidikan Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi Informasi (FPMIPATI) Universitas PGRI Semarang menghadirkan program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan kewirausahaan microgreen bagi siswa MA Darul Ulum Bulusari Sayung, Kabupaten Demak.

WAWASAN.NEWS, DEMAK – Upaya membangun generasi muda yang mandiri dan berdaya saing terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah.

Kali ini, tim dosen dari Fakultas Pendidikan Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi Informasi (FPMIPATI) Universitas PGRI Semarang menghadirkan program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan kewirausahaan microgreen bagi siswa MA Darul Ulum Bulusari Sayung, Kabupaten Demak.

Program ini dilatarbelakangi oleh potensi sumber daya lokal di wilayah Sayung yang cukup besar untuk pengembangan pertanian skala kecil berbasis lingkungan.

Namun demikian, belum optimalnya program praktik budidaya yang aplikatif dan terintegrasi dengan pembelajaran berbasis sains serta peluang usaha menyebabkan keterampilan kewirausahaan siswa masih perlu ditingkatkan.

Ketua tim pengabdian, Rivanna Citraning Rakhmawati, M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai solusi konkret untuk menjawab tantangan tersebut.

“Melalui program ini, kami ingin memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif. Siswa diajak memahami proses budidaya microgreen sekaligus mengembangkan pola pikir kewirausahaan berbasis potensi lokal,” ungkapnya.

Microgreen dipilih sebagai komoditas utama dalam pelatihan karena dinilai memiliki berbagai keunggulan.

Dosen Pendidikan Biologi UPGRIS, Eko Retno Mulyaningrum, M.Pd, menjelaskan bahwa tanaman muda ini memiliki siklus panen yang singkat dan nilai ekonomi yang menjanjikan.

“Microgreen dipilih karena memiliki siklus panen singkat, sekitar 7 hingga 14 hari, teknik budidayanya sederhana, tidak membutuhkan lahan luas, serta memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat meningkatkan life skill siswa,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pelatihan ini terintegrasi dengan pembelajaran di kelas.

“Selain itu, kegiatan ini relevan dengan materi Biologi tentang pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, sehingga dapat menjadi media pembelajaran kontekstual berbasis proyek atau Project Based Learning,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan pengabdian ini disusun secara sistematis melalui beberapa tahapan.

Dosen Pendidikan Matematika UPGRIS, Dr. Intan Indiati, M.Pd, menguraikan bahwa program dimulai dari tahap sosialisasi hingga evaluasi keberlanjutan.

“Kegiatan ini meliputi sosialisasi program dan koordinasi dengan pihak sekolah, penyuluhan tentang konsep microgreen, ketahanan pangan, dan peluang usaha berbasis green economy. Kemudian dilanjutkan dengan pelatihan praktik budidaya menggunakan benih yang sesuai dengan kearifan lokal, pendampingan perawatan, panen, hingga pengemasan produk,” terangnya.

Tidak hanya itu, siswa juga dibekali dengan pengetahuan dasar kewirausahaan.

“Kami juga memberikan pelatihan mengenai perhitungan biaya produksi, strategi pemasaran sederhana, branding produk, hingga analisis keuntungan. Tahap akhir dilakukan evaluasi dan monitoring melalui pembentukan kelompok usaha siswa atau studentpreneur agar program ini dapat berkelanjutan,” lanjutnya.

Antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan ini terlihat sejak awal hingga akhir pelatihan.

Mereka tidak hanya belajar menanam, tetapi juga memahami bagaimana mengolah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai jual. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas serta keberanian siswa untuk memulai usaha sejak dini.

Kepala MA Darul Ulum Bulusari Sayung Demak, Muhammad Agus Muhibbin, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. Ia menilai program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan siswa di era saat ini.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh tim dosen FPMIPATI UPGRIS ini karena mampu menstimulus jiwa kewirausahaan serta kemandirian siswa dalam mengembangkan usaha sederhana berbasis sains dan potensi lokal,” ujarnya.

Menurutnya, program ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga membuka peluang jangka panjang bagi siswa untuk mengembangkan usaha berbasis lingkungan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

Lebih jauh, program pelatihan microgreen ini juga diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan sekolah berbasis ethnopreneurship, yakni pendekatan kewirausahaan yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai kekuatan utama.

Model ini dinilai sangat cocok diterapkan di wilayah pesisir seperti Sayung yang memiliki karakteristik sosial dan ekonomi yang khas.

Dengan adanya sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat melalui program pengabdian ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dan jiwa kewirausahaan yang kuat.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi pendidikan berbasis potensi lokal mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah.

***

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI