Dari Bangku Kuliah ke Panggung Nasional, Mahasiswi Psikologi UNNES Ini Buktikan Kebaya Bisa Menjadi Ruang Pemberdayaan

Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar Puteri Kebaya Indonesia 2026 pada ajang Pemilihan Puteri Kebaya Indonesia edisi ketiga.

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:29 WIB
Dari Bangku Kuliah ke Panggung Nasional, Mahasiswi Psikologi UNNES Ini Buktikan Kebaya Bisa Menjadi Ruang Pemberdayaan

 WAWASAN.NEWS SEMARANG – Bagi sebagian orang, kebaya mungkin hanya dikenakan pada momen-momen tertentu. 

Namun di tangan Nayla Shafavirly Arifianti, kebaya menjelma menjadi simbol keberanian, kepedulian, sekaligus ruang untuk mengajak perempuan Indonesia semakin percaya pada kemampuan dirinya.

Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar Puteri Kebaya Indonesia 2026 pada ajang Pemilihan Puteri Kebaya Indonesia edisi ketiga.

Kemenangan tersebut mencatat sejarah tersendiri. Nayla menjadi perempuan pertama yang membawa pulang mahkota utama untuk Provinsi Jawa Tengah sekaligus pemenang pertama berhijab sejak kompetisi itu digelar.

Di balik mahkota yang kini dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai sejak pertengahan 2025.

Kala itu, Nayla mengikuti seleksi tingkat regional dan berhasil meraih gelar 1st Runner Up Puteri Kebaya Jawa Tengah. Hasil tersebut membawanya dipercaya mewakili Jawa Tengah 2 pada kompetisi tingkat nasional.

Perjalanan menuju grand final bukan sekadar soal berjalan anggun di atas panggung.

Selama masa karantina yang berlangsung pada 2–4 Juli 2026 di Hotel Merapi Merbabu, Yogyakarta, Nayla bersama para finalis menjalani berbagai tahapan yang menguji kemampuan, karakter, hingga kepedulian sosial.

Mereka mengikuti sashing ceremony, sesi pemotretan dan pembuatan video, wawancara mendalam, gala dinner, hingga kegiatan sosial.

Para finalis juga diajak mengunjungi Candi Prambanan sebelum mengikuti preliminary competition yang meliputi talent show, catwalk challenge, advocacy speech, serta kelas koreografi sebagai bekal menuju malam penobatan.

Ajang Pemilihan Puteri Kebaya Indonesia sendiri tidak hanya mencari sosok yang tampil anggun dalam balutan busana tradisional.

Kompetisi ini dirancang untuk melahirkan perempuan muda yang mampu menjadi duta pelestarian kebaya sebagai warisan budaya bangsa sekaligus memiliki kapasitas intelektual, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan program advokasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat itulah yang dibawa Nayla sejak awal mengikuti kompetisi. Ia meyakini bahwa mengenakan kebaya bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi juga tentang menghadirkan ruang bagi perempuan untuk berkarya, memimpin, dan memberikan inspirasi.

Keyakinan tersebut diwujudkan melalui gerakan KEMBANG (Kebaya Empowerment: Beauty, Action, Nation, Grace) yang diluncurkannya pada Hari Kebaya Nasional, 24 Juli 2025, dengan mengusung tagar #PerempuaNAYuBERKEBAYA.

Gerakan itu merupakan kelanjutan dari kampanye #LoveYourself yang telah ia gagas sejak 2020.

Melalui berbagai kegiatan, Nayla berupaya menumbuhkan rasa percaya diri perempuan agar berani mengenali potensi yang dimiliki serta tidak ragu mengambil peran di tengah masyarakat.

Komitmennya juga diwujudkan melalui kegiatan pemberdayaan ibu-ibu PKK di Desa Dologan.

Selain itu, ia mengajak anak-anak mengenal budaya Nusantara lewat cerita rakyat Roro Jonggrang yang disampaikan sambil mengenakan kebaya, sehingga nilai budaya dapat dikenalkan sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan.

Bagi Nayla, mahkota Puteri Kebaya Indonesia bukanlah garis akhir sebuah perjalanan.

Gelar tersebut justru menjadi amanah untuk terus menyuarakan pentingnya pemberdayaan perempuan sekaligus menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia.

Prestasi yang diraih mahasiswi Psikologi UNNES ini juga menjadi bukti bahwa dunia akademik mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul di bidang pendidikan, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan dan aksi nyata bagi masyarakat.

Lewat langkahnya, Nayla menunjukkan bahwa kebaya bukan sekadar busana tradisional. Di balik setiap helainya, tersimpan identitas bangsa, semangat berkarya, dan pesan bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri percaya diri, membawa perubahan, tanpa meninggalkan akar budayanya.

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI