Spektakel Budaya “Rojo Tikus” Siap Menghipnotis, Teater Lingkar Angkat Kritik Sosial Lewat Pakeliran Multidimensi

Teater Lingkar menggandeng budayawan legendaris Sujiwo Tejo dalam proses kreatifnya.

Kamis, 23 April 2026 - 14:47 WIB
Spektakel Budaya “Rojo Tikus” Siap Menghipnotis, Teater Lingkar Angkat Kritik Sosial Lewat Pakeliran Multidimensi

WAWASAN.NEWS, DEMAK - Sebuah peristiwa seni budaya berskala besar siap digelar di Kabupaten Demak. 

Teater Lingkar akan menghadirkan pertunjukan bertajuk “Rojo Tikus”, sebuah karya monumental berkonsep Pakeliran Multidimensi yang memadukan teater, pedalangan, tari, serta musik dalam satu panggung kolaboratif.

Pementasan ini akan berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 19.00 WIB di Stadion Pancasila dan dapat disaksikan secara gratis oleh masyarakat.

Kehadiran pertunjukan ini bukan sekadar agenda hiburan, melainkan sebuah perayaan seni yang sarat makna.

Teater Lingkar menggandeng budayawan legendaris Sujiwo Tejo dalam proses kreatifnya.

Kolaborasi ini menjadi daya tarik utama, mengingat Sujiwo Tejo dikenal luas sebagai sosok yang konsisten menghadirkan karya bernuansa filosofis, kritis, dan kental dengan nilai-nilai budaya Nusantara.

Humas Teater Lingkar, Ario Bimo Gesit, menegaskan bahwa pertunjukan ini merupakan bentuk persembahan istimewa bagi masyarakat sekaligus upaya memperkuat eksistensi seni tradisi di tengah arus modernisasi.

“Kami menghadirkan lakon Rojo Tikus sebagai sebuah mahakarya Pakeliran Multidimensi yang dikemas sebagai kado budaya istimewa. Ini adalah karya kolaboratif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung refleksi sosial yang kuat,” ujarnya.

Pertunjukan ini digarap oleh Sindhunata Gesit Widiharto, S.Sn., M.Sn., yang mengusung konsep “Sutradalang”—sebuah pendekatan di mana satu sosok berperan ganda sebagai sutradara sekaligus dalang.

Konsep ini memberikan kebebasan artistik yang luas dalam meramu alur cerita, visual panggung, serta dinamika pertunjukan secara menyeluruh.

Secara artistik, Pakeliran Multidimensi yang diusung dalam “Rojo Tikus” merupakan bentuk inovasi dari seni tradisi yang terus dikembangkan tanpa meninggalkan akar pakemnya.

Pertunjukan ini menggabungkan elemen pedalangan klasik dengan pendekatan teater modern, diperkaya dengan koreografi tari serta komposisi musik yang memadukan instrumen diatonis dan pentatonis.

“Pakeliran Multidimensi menjadi ruang eksplorasi lintas seni. Kami berupaya menghadirkan sesuatu yang baru tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi dasar garapan,” jelas Ario.

Dari sisi cerita, lakon “Rojo Tikus” menawarkan narasi yang kuat dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Kisahnya berpusat pada tokoh Tuan Wirog Bawono, seorang pemimpin dari negeri fiktif yang digambarkan sebagai “tikus berdasi”.

Ia merupakan simbol penguasa yang korup, yang selama ini memperkaya diri melalui praktik-praktik tidak bermoral bersama kelompoknya hingga menciptakan sistem kekuasaan yang disebut “Orde Tikus”.

Namun, konflik mulai berkembang ketika Wirog Bawono dilanda kesadaran untuk bertobat dan kembali ke jalan kebaikan.

Perjalanan batin ini tidaklah mudah, karena ia mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk istrinya, Queen Milly Cherry, yang digambarkan sebagai sosok manipulatif dan penuh ambisi.

Di sisi lain, pertarungan moral dalam diri Wirog semakin kompleks dengan hadirnya dua kekuatan yang saling bertentangan.

Sosok mendiang ibu surinya hadir dalam mimpi sebagai simbol kebijaksanaan, memberikan nasihat dan tuntunan hidup. Sebaliknya, leluhur tikus bernama Kakek Jinada justru mendorongnya untuk tetap mempertahankan sifat rakus dan kekuasaan yang menindas.

Konflik ini menghadirkan pergulatan batin yang intens, di mana nilai-nilai kebaikan dan keburukan saling berhadapan. Penonton diajak untuk menyaksikan perjalanan transformasi seorang pemimpin, sekaligus merenungkan realitas sosial yang kerap terjadi dalam kehidupan nyata.

“Cerita ini adalah cerminan kehidupan. Kami ingin mengajak penonton untuk berpikir, apakah kekuasaan akan digunakan untuk kebaikan atau justru menjadi alat penindasan,” ungkap Ario.

Lebih dari sekadar pertunjukan, “Rojo Tikus” juga menjadi medium edukasi budaya. Dengan menghadirkan berbagai elemen seni dalam satu panggung, pertunjukan ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai seni tradisi.

Dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia semakin memperkuat posisi acara ini sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya nasional. Pemerintah melalui kementerian terkait mendorong hadirnya karya-karya kreatif yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas.

Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan ini diperkirakan akan tinggi, mengingat konsep yang diusung berbeda dari pertunjukan pada umumnya.

Selain itu, akses gratis yang diberikan juga membuka peluang bagi berbagai kalangan untuk menikmati sajian seni berkualitas.

Teater Lingkar pun mengajak masyarakat luas untuk turut hadir dan meramaikan pementasan ini sebagai bentuk dukungan terhadap seni budaya Nusantara.

“Kami mengundang seluruh masyarakat untuk hadir bersama, menikmati, dan mengapresiasi karya ini. Mari kita jadikan momentum ini sebagai ruang bersama untuk merayakan budaya,” pungkas Ario.

Dengan kemasan spektakuler, kedalaman cerita, serta kolaborasi lintas seni dan generasi, “Rojo Tikus” diproyeksikan menjadi salah satu pertunjukan budaya paling menarik tahun ini.

Tidak hanya menjadi tontonan yang memukau secara visual, tetapi juga menyajikan tuntunan yang menggugah kesadaran sosial dan nilai-nilai kemanusiaan.

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI