Kupas Tuntas Mitologi dan Kirtik Sosial, S2 PBSI UPGRIS Bedah Buku Kutukan Naga Jati
Karya sastra yang diulas, “Kutukan Naga Jati” merupakan buah tangan dari Tegsa Teguh Satriyo, seorang penulis sekaligus pendidik yang aktif di dunia literasi Semarang.
WAWASAN.NEWS - Perpaduan antara mitologi Jawa dan kritik sosial, menjadi sajian utama dalam kegiatan Bedah Buku “Kutukan Naga Jati” yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S2 PBSI) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
Acara ini digelar secara daring melalui Zoom dan sukses menarik perhatian puluhan peserta dari berbagai wilayah Indonesia, bahkan hingga Belgia.
Karya sastra yang diulas, “Kutukan Naga Jati” merupakan buah tangan dari Tegsa Teguh Satriyo, seorang penulis sekaligus pendidik yang aktif di dunia literasi Semarang.
Kumpulan cerpen ini menyuguhkan narasi fiktif bernuansa lokal, kaya akan mitologi Jawa, dan sarat dengan pesan moral serta refleksi sosial.
Acara yang berlangsung selama dua jam ini menghadirkan dua narasumber utama yang memberikan perspektif kritis terhadap buku tersebut.
Muhajir Arrosyid, S.Pd., M.Hum., dosen dan cerpenis dari UPGRIS, menekankan bagaimana mitos dan politik saling terhubung dalam cerpen-cerpen Tegsa:
“Cerpen-cerpen dalam buku ini kental dengan mitologi. Mitos-mitos dibangun kemudian dikaitkan juga dengan hal-hal politik,” ungkapnya.
Sementara itu, Noor Hamidah, S.Pd., M.Pd., guru dan pegiat literasi dari Pati, mengangkat sisi estetis dan kekuatan bahasa yang digunakan:
“Buku ini menarik dari berbagai sisi: mulai dari kemasan kaver yang estetis hingga penamaan tokoh-tokohnya yang unik dan khas.”
Antusiasme peserta sangat terasa selama sesi diskusi.
Banyak yang memberikan apresiasi terhadap kedalaman cerita dan keunikan ending di setiap cerpen.
Salah satu peserta menyatakan bahwa buku tersebut cocok dibaca siapa saja.
"Ceritanya unik, ending-nya selalu mengejutkan.”
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya literasi akademik yang digagas Magister PBSI UPGRIS untuk menumbuhkan apresiasi terhadap karya sastra Indonesia, memperluas wawasan kritis mahasiswa, dan membangun jejaring antar pecinta literasi dari berbagai latar belakang.
“Kutukan Naga Jati” tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membuka ruang refleksi atas realitas sosial melalui balutan fiksi yang kuat dan penuh makna.
***



