Saat Sumur Mengering, Harapan Datang Bersama Tangki Air: Jateng Sudah Salurkan Lebih dari 3 Juta Liter Air Bersih
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, sedikitnya 16 daerah telah menetapkan status siaga kekeringan. Daerah tersebut meliputi Kabupaten Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, Banjarnegara, Purbalingga, Grobogan, Semarang, Pemalang, Wonosobo, Purworejo, Wonogiri, serta Kota Salatiga dan Kota Tegal.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak lebih awal untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang mulai meluas pada musim kemarau 2026.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, langkah penanganan dilakukan berdasarkan pemetaan yang telah disusun oleh pemerintah kabupaten dan kota.
"Para bupati dan wali kota sudah membuat mapping (pemetaan). Sudah dipetakan mana daerah-daerah yang kekeringan," ujar Ahmad Luthfi usai menghadiri Tasyakuran HUT ke-27 PP Polri Cabang Batang, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan, hasil pemetaan menjadi dasar bagi pemerintah provinsi bersama perangkat daerah untuk segera mengeksekusi berbagai langkah penanganan sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
"Prinsipnya, bupati dan wali kota sudah punya data. Tinggal kita mengeksekusi kegiatannya," katanya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, sedikitnya 16 daerah telah menetapkan status siaga kekeringan.
Sementara itu, sejak 5 Juni hingga 14 Juli 2026, sebanyak 3.258.000 liter air bersih telah disalurkan melalui 660 armada tangki.
Di balik jutaan liter air yang didistribusikan, terdapat kolaborasi banyak pihak. Penanganan kekeringan tidak hanya mengandalkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, tetapi juga melibatkan pemerintah kabupaten, BPJS Kesehatan, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, serta BUMD Tirta Satria melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Semangat gotong royong tersebut menjadi modal penting agar bantuan dapat menjangkau lebih banyak warga yang terdampak, terutama di wilayah yang akses sumber airnya semakin terbatas akibat kemarau berkepanjangan.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Pemprov Jawa Tengah juga telah menerbitkan Surat Edaran Gubernur tentang Antisipasi Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan pada 9 Juni 2026. Surat edaran tersebut menjadi acuan bagi seluruh pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pembahasan teknis mengenai penanganan kekeringan masih terus dilakukan bersama pemerintah kabupaten dan kota. Dengan data yang telah tersedia, setiap daerah diharapkan segera menyiapkan langkah operasional agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
Selain melakukan distribusi air bersih sebagai langkah darurat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memperkuat upaya jangka menengah dan panjang. Program tersebut meliputi pemeliharaan sumur bor komunal, pengembangan infrastruktur penyediaan air bersih, penguatan manajemen logistik kebencanaan, konservasi sumber daya air, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menggunakan air secara hemat selama musim kemarau.
Bagi sebagian orang, tiga juta liter air mungkin hanya sebuah angka. Namun bagi puluhan ribu warga yang merasakan langsung manfaatnya, air itu berarti aktivitas yang kembali berjalan, kebutuhan rumah tangga yang terpenuhi, dan harapan bahwa musim kemarau dapat dilalui bersama melalui kepedulian dan gotong royong.



