PGRI Jateng Jadi Mitra Strategis, Sinergi dan Pemerataan Guru Jadi Fokus Utama Pendidikan Jawa Tengah
Dr. Sadimin menilai peran PGRI sangat strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru. Berbagai pelatihan dan workshop yang diselenggarakan dinilai mampu mendorong peningkatan kompetensi sekaligus perubahan pola pikir dalam dunia pendidikan
WAWASAN.NEWS, SEMARANG - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Sadimin, menyampaikan pesan sekaligus harapan kepada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah agar terus memperkuat sinergi dalam memajukan dunia pendidikan di daerah.
Menurutnya, hubungan antara Dinas Pendidikan dan PGRI selama ini telah berjalan sangat baik dan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Hal tersebut disampaikannya disela Konferensi Kerja II Masa Bakti XIII Tahun 2026 di Balairung Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Sabtu (25/4/2026)
“Terkait fokus perhatian dan harapan kepada rekan-rekan di PGRI, kami dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah tentu merasa sangat bangga dan senang. Selama ini, komunikasi dan kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan PGRI Provinsi Jawa Tengah terjalin dengan sangat baik,” ujar Dr. Sadimin.
Ia menegaskan, kedekatan tersebut bukan hanya secara kelembagaan, tetapi juga emosional. Banyak pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan yang memiliki latar belakang sebagai pengurus PGRI di berbagai tingkatan.
“Kami juga memiliki kedekatan emosional, karena banyak dari kami yang berasal dari PGRI, mulai dari tingkat ranting hingga pengurus provinsi. Hal ini menjadi kekuatan untuk terus saling mendukung dalam memajukan pendidikan di Jawa Tengah,” lanjutnya.
Dorong Penguatan Kompetensi Guru
Dr. Sadimin menilai peran PGRI sangat strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru.
Berbagai pelatihan dan workshop yang diselenggarakan dinilai mampu mendorong peningkatan kompetensi sekaligus perubahan pola pikir dalam dunia pendidikan.
“Harapan kami, sinergi ini terus terjaga dan semakin diperkuat. Berbagai kegiatan seperti pelatihan dan workshop yang diselenggarakan PGRI terbukti mampu meningkatkan kompetensi guru. Dampaknya tentu pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas, sekaligus mendorong perubahan mindset pendidikan agar semakin maju,” jelasnya.
Penataan Guru PPPK Jadi PR Utama
Di sisi lain, ia mengakui masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi pekerjaan rumah, salah satunya terkait penataan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Saat ini, salah satu pekerjaan rumah yang masih menjadi fokus adalah penataan guru PPPK. Masih ada beberapa hal yang perlu disesuaikan, terutama terkait regulasi,” ungkapnya.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk PGRI Jawa Tengah dan pemangku kebijakan di tingkat pusat, guna mencari solusi terbaik.
“Kami berharap para guru dapat direlokasi lebih dekat dengan domisili mereka, sehingga kesejahteraan meningkat dan kinerja menjadi lebih optimal,” tambahnya.
Saat ini, jumlah guru PPPK di Jawa Tengah mencapai sekitar 2.900 orang. Jika digabung dengan tenaga tata usaha, totalnya mencapai sekitar 10.630 orang. Mereka disebut telah menerima gaji sesuai UMK di masing-masing daerah.
Kekurangan dan Ketimpangan Guru
Persoalan lain yang disoroti adalah masih adanya kekurangan guru di sejumlah bidang, serta ketimpangan distribusi tenaga pendidik antarwilayah.
“Di lapangan, terdapat ketimpangan distribusi guru. Di beberapa daerah terjadi kekurangan, seperti guru BK, fisika, dan bahasa Inggris, sementara di daerah lain justru berlebih,” jelas Dr. Sadimin.
Ia menekankan pentingnya kebijakan relokasi agar distribusi guru lebih merata dan tidak mengganggu proses pembelajaran.
Secara khusus, kekurangan paling menonjol terjadi pada guru Bahasa Jawa, serta guru kejuruan di SMK, terutama bidang teknik.
“Secara umum, kekurangan paling menonjol adalah guru Bahasa Jawa. Selain itu, di SMK juga masih banyak kekurangan guru pada jurusan-jurusan teknik,” tegasnya.
Dorong Rekrutmen Guru Berkelanjutan
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dr. Sadimin berharap pemerintah pusat dapat membuka formasi CPNS guru secara rutin setiap tahun.
“Kami berharap pemerintah setiap tahun membuka lowongan CPNS guru, karena selalu ada guru yang memasuki masa pensiun,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa peran guru tidak bisa digantikan oleh teknologi, terutama dalam pembentukan karakter siswa.
“Guru tidak bisa digantikan oleh mesin atau teknologi apa pun. Guru harus hadir di kelas, karena pendidikan karakter membutuhkan sosok teladan,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, Dr. Sadimin optimistis bahwa dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan PGRI, serta dukungan kebijakan yang tepat, kualitas pendidikan di Jawa Tengah akan terus meningkat.
“Ke depan, kami berharap kebutuhan guru dapat terus dipenuhi secara bertahap melalui rekrutmen yang berkelanjutan, sehingga kualitas pendidikan di Jawa Tengah semakin meningkat,” pungkasnya.
***



