Peringatan 46 Tahun Teater Lingkar, Menghidupkan Nilai dan Menjaga Tradisi

Teater Lingkar harus tetap menjadi rumah terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, berkarya, dan mencintai budaya.

Senin, 6 April 2026 - 11:56 WIB
Peringatan 46 Tahun Teater Lingkar, Menghidupkan Nilai dan Menjaga Tradisi

WAWASAN.NEWS, Suasana haru menyelimuti peringatan perjalanan panjang Teater Lingkar ketika keluarga besar komunitas ini menyaksikan pemutaran video kenangan almarhum MasTon.

Tayangan tersebut bukan sekadar dokumentasi, tetapi menjadi jembatan emosional yang membawa para hadirin kembali ke masa-masa awal lahirnya komunitas seni tersebut.

Dalam rekaman itu, MasTon menceritakan bagaimana Teater Lingkar bermula dari kegelisahannya melihat kehidupan anak-anak muda di kawasan Tegal Wareng, yang kini dikenal sebagai kawasan Taman Budaya Raden Saleh.

Saat itu, banyak pemuda berkumpul tanpa arah yang jelas, memunculkan kekhawatiran akan aktivitas yang tidak produktif.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, MasTon memilih pendekatan yang berbeda. Ia tidak menjauhkan diri, melainkan merangkul mereka dengan mengajak berdialog dan membuka ruang alternatif melalui seni teater.

“Ada kekhawatiran bahwa kegiatan teman-teman muda itu tidak positif. Dari situlah saya mencoba merangkul mereka, mengajak berdiskusi bagaimana jika kita membentuk komunitas yang bergerak di bidang seni teater,” demikian potongan pesan dalam video tersebut.

Ajakan itu mendapat sambutan hangat. Para pemuda yang sebelumnya tercerai dalam aktivitas tanpa arah kemudian mulai berkumpul, berdiskusi, dan akhirnya sepakat membentuk sebuah wadah bersama.

Pada Selasa, 4 Maret 1980, lahirlah kelompok teater yang kemudian diberi nama “Lingkar”.

Nama tersebut bukan sekadar simbol, melainkan mengandung filosofi mendalam. MasTon menjelaskan bahwa “Lingkar” berasal dari konsep lingkaran yang memiliki satu titik pusat dengan jari-jari yang sama panjang.

“Titik pusat itu adalah tujuan bersama, yakni menjadi manusia yang berakhlak. Sementara jari-jari yang sama berarti setiap anggota memiliki hak dan kewajiban yang setara,” ungkapnya dalam rekaman tersebut.

Filosofi itu kemudian menjadi dasar dalam membangun kehidupan komunitas. Dalam sebuah lingkaran, tidak ada individu yang berdiri sendiri. Setiap gerak satu anggota akan memengaruhi yang lain.

Karena itu, Teater Lingkar dibangun di atas kesadaran kolektif, tanggung jawab bersama, serta kehati-hatian dalam bertindak.

Lebih dari sekadar ruang berkesenian, Teater Lingkar menjelma menjadi tempat pembentukan karakter. Seni tidak hanya dipandang sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai sarana membangun jiwa dan nilai-nilai kebudayaan.

“Budaya adalah benteng bangsa. Membangun jiwa bisa melalui kesenian dan kebudayaan. Cinta budaya berarti cinta Indonesia,” demikian pesan yang disampaikan MasTon, yang hingga kini terus dikenang.

Semangat tersebut kembali ditegaskan oleh Sindhunata Gesit Widiarto dalam sambutannya.

Ia menyampaikan bahwa Teater Lingkar harus tetap menjadi rumah terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, berkarya, dan mencintai budaya.

Menurutnya, warisan terbesar MasTon bukan hanya organisasi yang telah berdiri hampir setengah abad, tetapi nilai-nilai yang menjadikan seni sebagai jalan pembentukan karakter manusia.

“MasTon membangun Lingkar bukan hanya sebagai tempat berkesenian, tetapi sebagai ruang membentuk karakter. Tugas kita adalah memastikan nilai-nilai itu terus hidup dan berkembang,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh keluarga besar Teater Lingkar untuk menjadikan peringatan hari ulang tahun ke-46 sebagai momentum refleksi sekaligus pembaruan tekad dalam merawat semangat kebudayaan, khususnya di Kota Semarang.

***

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI