Mewujudkan Satuan Pendidikan Tangguh Kesiapsiagaan Bencana di SMA Negeri 1 Comal Bersama Magang Kependidikan UPGRIS
Bersama tim Magang Kependidikan dari Universitas PGRI Semarang, sekolah mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan.
WAWASAN.NEWS, Komitmen membangun lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh terus diperkuat oleh SMA Negeri 1 Comal melalui implementasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Program ini menjadi langkah strategis dalam merespons berbagai potensi risiko bencana yang dapat mengganggu proses belajar mengajar sekaligus mengancam keselamatan warga sekolah.
Bersama tim Magang Kependidikan dari Universitas PGRI Semarang, sekolah mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik nyata di lapangan.
Kolaborasi ini menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan sekolah dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap risiko.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 23 Februari 2026 melalui sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana yang digelar di aula sekolah.
Kegiatan ini menjadi tonggak awal dalam membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana. Tidak sekadar penyampaian materi, forum ini berkembang menjadi ruang diskusi aktif yang melibatkan guru, siswa, serta tim magang.
Dalam sosialisasi tersebut, dilakukan analisis risiko secara partisipatif untuk mengidentifikasi titik rawan di lingkungan sekolah.
Infrastruktur, tata letak bangunan, serta kondisi geografis menjadi perhatian utama dalam menentukan langkah mitigasi yang tepat.
Pemetaan zona aman dan jalur evakuasi disusun secara detail agar mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh warga sekolah.
Koordinator program SPAB, Zulfa Izzati Prisanto, menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam program ini.
"Kami ingin memastikan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar benar dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, sehingga setiap individu harus tahu apa yang harus dilakukan saat situasi darurat terjadi," paparnya.
Selain pemetaan risiko, sosialisasi juga menekankan internalisasi prosedur keselamatan.
Jalur evakuasi diperkenalkan secara rinci, termasuk titik kumpul yang telah ditetapkan sebagai pusat koordinasi saat bencana.
Warga sekolah juga dilatih untuk membangun mental yang tenang dan tidak panik agar mampu bertindak cepat dan tepat.
Hasil dari kegiatan ini adalah tersusunnya draft prosedur tetap penanggulangan bencana yang aplikatif dan mudah dipahami.
Dokumen tersebut menjadi pedoman penting dalam membangun sistem respons darurat yang terstruktur di lingkungan sekolah.
Memasuki tahap berikutnya, pada 2 April 2026, SMA Negeri 1 Comal melaksanakan kegiatan pembuatan video mitigasi bencana banjir.
Kegiatan ini dipilih sebagai inovasi edukasi berbasis visual yang dinilai lebih efektif dalam menyampaikan pesan kepada siswa.
Ketua tim magang, Mochammad Hafiidz Misbahudin, menjelaskan bahwa media video memiliki kekuatan dalam membangun pemahaman yang lebih mendalam.
“Kami ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya didengar, tetapi juga dilihat dan dipraktikkan secara langsung. Dengan video, siswa dapat memahami alur mitigasi bencana secara lebih konkret dan mudah diingat," urainya.
Proses produksi video melibatkan siswa sebagai pemeran utama dalam simulasi penanganan bencana banjir.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung sekaligus menumbuhkan rasa kepedulian terhadap keselamatan diri dan lingkungan sekitar.
Dalam video tersebut, ditampilkan berbagai tahapan penting yang harus dilakukan saat menghadapi ancaman banjir.
Mulai dari deteksi dini terhadap peningkatan debit air hingga mekanisme penyebaran informasi darurat di lingkungan sekolah.
Siswa juga diperagakan untuk melakukan langkah pengamanan terhadap aset penting seperti dokumen dan peralatan elektronik dengan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi.
Simulasi evakuasi menjadi bagian penting dalam video tersebut.
Pergerakan siswa dilakukan secara tertib menuju zona aman dengan menghindari area berbahaya seperti instalasi listrik. Penekanan pada kedisiplinan dan koordinasi menjadi kunci utama dalam memastikan keselamatan bersama.
Koordinator SPAB kembali menekankan bahwa keberlanjutan program menjadi hal yang sangat penting.
Menurutnya, edukasi tidak boleh berhenti pada satu kegiatan saja, melainkan harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap budaya sadar bencana dapat tertanam kuat di lingkungan sekolah. Ini bukan hanya tentang menghadapi bencana, tetapi juga tentang membangun karakter disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian,” ujar Zulfa.
Sementara itu, Mochammad Hafiidz Misbahudin juga menambahkan bahwa pengalaman ini memberikan pembelajaran berharga bagi tim magang.
“Kami tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga belajar bagaimana membangun sistem yang berdampak langsung bagi keselamatan banyak orang. Ini menjadi pengalaman yang sangat bermakna bagi kami sebagai calon pendidik,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung dari Februari hingga April 2026 ini menunjukkan keseriusan SMA Negeri 1 Comal dalam membangun satuan pendidikan yang tangguh terhadap bencana.
Sekolah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada perlindungan jiwa dan keselamatan seluruh warganya.
Dengan mengintegrasikan perencanaan strategis dan inovasi edukasi, SMA Negeri 1 Comal berhasil menghadirkan model pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman.
Upaya ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengembangkan program kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan dan berdampak luas.
***



