BINUS @Semarang Hadirkan AI Experience Campus untuk Jawab Tantangan Masa Depan
Di tengah derasnya transformasi digital, memilih jurusan kuliah kini tidak lagi sekadar menentukan bidang studi, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapan generasi muda menghadapi masa depan yang penuh perubahan
WAWASAN.NEWS SEMARANG — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan dunia kerja.
Di tengah derasnya transformasi digital, memilih jurusan kuliah kini tidak lagi sekadar menentukan bidang studi, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapan generasi muda menghadapi masa depan yang penuh perubahan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian BINUS University @Semarang dalam sebuah temu media bertajuk “Menentukan Arah Masa Depan Anak di Era AI: Di Tengah Banyak Pilihan dan Ketidakpastian”, Jumat (8/4/2026).
Direktur Kampus BINUS University @Semarang, Fredy Purnomo menegaskan bahwa pemilihan jurusan kuliah sebaiknya dilakukan dengan pendampingan orang tua agar calon mahasiswa tidak salah menentukan arah pendidikan.
“Pilihlah jurusan yang memang diminati, sesuai dengan kemampuan, serta bakat, dan jangan hanya ikut-ikutan saja,” jelasnya.
Menurut Fredy, di era AI seperti sekarang, tantangan pendidikan semakin kompleks. Orang tua dan calon mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada banyaknya pilihan kampus dan program studi, tetapi juga kekhawatiran apakah jurusan yang dipilih masih relevan di masa depan.
Perubahan dunia kerja yang berlangsung sangat cepat membuat banyak keluarga mulai memikirkan secara serius hubungan antara pendidikan dan peluang karier jangka panjang.
Fenomena tersebut terlihat dari masih tingginya angka career mismatch di Indonesia. Sekitar 35 hingga 36 persen lulusan diketahui bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh selama kuliah.
Di sisi lain, laporan global juga menunjukkan sekitar 22 persen pekerjaan diperkirakan akan mengalami perubahan pada tahun 2030 akibat perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Kondisi ini membuat generasi muda dituntut memiliki kemampuan yang lebih adaptif, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Riset yang dilakukan Populix bersama BINUS University juga menunjukkan bahwa kekhawatiran orang tua kini berkembang semakin luas.
Tidak hanya soal memilih jurusan, tetapi juga mengenai sejauh mana pendidikan mampu memberikan arah yang jelas dan kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja di era digital.
Menjawab tantangan tersebut, BINUS University @Semarang hadir sebagai Digital Transformation & AI Experience Campus yang menawarkan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman nyata dan penguatan kompetensi digital.
Menurut Fredy, perkembangan AI telah mengubah cara perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswa.
“Perkembangan AI membuat dunia kerja berubah jauh lebih cepat dari sebelumnya. Karena itu, pendidikan tidak bisa lagi hanya berfokus pada teori, tetapi harus mampu memberikan pengalaman nyata dan pemahaman bagaimana teknologi digunakan di dunia industri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mahasiswa saat ini tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus memahami cara memanfaatkan teknologi secara strategis.
“Di BINUS @Semarang, kami membekali mahasiswa dengan AI experience agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dan memanfaatkannya secara strategis,” lanjutnya.
Fredy juga menekankan bahwa manfaat pendidikan seharusnya sudah mulai dirasakan sejak mahasiswa masih menjalani proses kuliah, bukan hanya setelah lulus.
“Kami melihat bahwa pendidikan harus mulai memberikan dampak sejak mahasiswa masih kuliah. Melalui pendekatan digital transformation, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk pekerjaan yang ada hari ini, tetapi juga untuk menghadapi pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini,” tambahnya.
Selain persoalan akademik dan perkembangan teknologi, aspek psikologis juga menjadi perhatian dalam menentukan arah pendidikan anak.
Gary Collins Brata Winardy menjelaskan bahwa tekanan dalam memilih pendidikan saat ini semakin besar karena dipengaruhi perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang sangat cepat.
“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami kekhawatiran dan ketakutan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa ketakutan bahwa jurusan yang saat ini dipilih tidak lagi relevan di kemudian hari,” jelasnya.
Menurut Gary, kondisi tersebut membuat komunikasi antara orang tua dan anak menjadi sangat penting dalam proses menentukan pendidikan tinggi.
Anak membutuhkan ruang untuk mengenali minat dan potensinya, sementara orang tua perlu hadir sebagai pendamping, bukan penentu sepihak.
Ia menilai, pendekatan yang tepat dalam memilih jurusan adalah dengan memahami kombinasi antara minat, bakat, kemampuan, dan perkembangan kebutuhan dunia kerja.
Di tengah era AI yang terus berkembang, pendidikan tinggi juga dituntut lebih adaptif agar mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menghadapi perubahan.
Karena itu, perguruan tinggi kini mulai bergerak menuju sistem pembelajaran yang lebih dinamis, berbasis pengalaman industri, teknologi digital, hingga penguatan soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, dan kemampuan problem solving.
BINUS University @Semarang melihat bahwa masa depan pendidikan bukan lagi hanya soal memperoleh gelar akademik, melainkan bagaimana membentuk mahasiswa yang mampu beradaptasi dengan perubahan dan menciptakan peluang baru di tengah disrupsi teknologi.
Dengan perkembangan AI yang semakin cepat, memilih jurusan kuliah kini menjadi keputusan strategis yang perlu dipersiapkan secara matang.
Pendampingan orang tua, pemahaman terhadap potensi diri, serta kesiapan menghadapi perubahan teknologi menjadi faktor penting agar generasi muda tetap relevan dan mampu bersaing di masa depan.



