Wali Kota Agustina Dorong Festival Cheng Ho Naik Kelas Jadi Event Internasional
Festival Arak-Arakan Cheng Ho 2026 digelar pada 14 hingga 16 Agustus 2026 untuk memperingati 621 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara, khususnya Kota Semarang yang memiliki jejak sejarah kuat terkait pelayaran tokoh legendaris tersebut.
Prosesi kirab yang menjadi tradisi tahunan tersebut diawali dari Klenteng Tay Kak Sie menuju Klenteng Agung Sam Poo Kong. Kimsin diarak menggunakan Kio atau tandu dan diikuti ribuan peserta dari berbagai komunitas serta lapisan masyarakat yang memadati sepanjang rute perjalanan.
Menurut Agustina, tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi simbol doa dan harapan bagi kesejahteraan seluruh warga Kota Semarang.
"Ini luar biasa dan menjadi berkah untuk Kota Semarang. Doa-doa yang dilantunkan sejak dari Tay Kak Sie hingga tiba di Sam Poo Kong ini adalah doa untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga," ujar Agustina.
Perayaan 621 Tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho
Festival Arak-Arakan Cheng Ho 2026 digelar pada 14 hingga 16 Agustus 2026 untuk memperingati 621 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara, khususnya Kota Semarang yang memiliki jejak sejarah kuat terkait pelayaran tokoh legendaris tersebut.
Festival ini telah menjadi salah satu agenda budaya penting di Kota Semarang.
Kehadiran berbagai tokoh penting turut menambah semarak perhelatan tersebut.
Potensi Menjadi Event Internasional
Agustina menilai dukungan yang diberikan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadi modal penting bagi pengembangan Festival Cheng Ho ke depan.
Menurutnya, kehadiran perwakilan negara asing dalam perhelatan tersebut menunjukkan bahwa Festival Cheng Ho memiliki daya tarik yang tidak hanya berskala lokal maupun nasional, tetapi juga internasional.
"Dukungan pusat dan provinsi sangat berarti. Kehadiran perwakilan asing seperti Konsul Jenderal RRT juga membuka peluang besar agar festival ini bisa berkembang menjadi event berskala internasional di masa depan," katanya.
Ia berharap Festival Cheng Ho dapat menjadi salah satu ikon wisata budaya Kota Semarang yang mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara dan memperkuat posisi Semarang sebagai kota tujuan wisata sejarah dan budaya.
Berikan Dampak Ekonomi dan Ruang Kreatif
Selain menjadi atraksi budaya, penyelenggaraan Festival Cheng Ho juga dinilai memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat.
Ribuan pengunjung yang datang selama festival berlangsung memberikan peluang usaha bagi para pelaku UMKM yang menjajakan berbagai produk kuliner, kerajinan, hingga suvenir khas Semarang.
Tidak hanya itu, festival ini juga menjadi ruang ekspresi bagi para seniman dan pelaku budaya untuk menampilkan karya terbaik mereka kepada masyarakat luas.
Generasi muda pun memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah perjalanan Laksamana Cheng Ho serta nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas Kota Semarang.
Menurut Agustina, manfaat ekonomi, sosial, dan budaya tersebut menjadi alasan penting mengapa tradisi ini harus terus dilestarikan dan dikembangkan.
Apresiasi untuk Warga dan Seluruh Pendukung Acara
Kelancaran pelaksanaan kirab budaya ini tidak lepas dari peran serta masyarakat dan berbagai pihak yang terlibat.
Agustina menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya Festival Cheng Ho 2026.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang dengan sabar mengikuti rangkaian acara, termasuk warga yang berada di sepanjang jalur kirab.
"Pemerintah Kota Semarang menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga dan pihak yang mendukung kelancaran acara. Kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada para pengguna jalan yang sempat terdampak kepadatan lalu lintas di sepanjang rute kirab sejak pagi hari," tuturnya.
Simbol Toleransi dan Kebersamaan
Setelah prosesi penyambutan di Sam Poo Kong, rangkaian puncak Festival Cheng Ho dilanjutkan dengan pengembalian Kimsin dari Klenteng Sam Poo Kong menuju Klenteng Tay Kak Sie pada sore hari.
Bagi Pemerintah Kota Semarang, Festival Cheng Ho tidak hanya menjadi perayaan budaya semata, tetapi juga simbol kuat toleransi, kerukunan, dan keberagaman yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Agustina berharap nilai-nilai tersebut terus terjaga dan menjadi modal sosial dalam membangun Kota Semarang yang harmonis sekaligus maju sebagai destinasi wisata budaya.
"Gotong royong dan toleransi yang terlihat hari ini adalah kekuatan utama kota kita. Kita akan terus merawat warisan budaya ini agar semakin dikenal dan memberikan manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.



