PPKO Kopma UPGRIS Integrasikan Konsep Pentahelix untuk Penguatan Desa Wisata Ngesrepbalong
Program ini berlangsung selama empat bulan, sejak Juli hingga Oktober 2025, dengan tujuan utama memperkuat posisi Desa Ngesrepbalong sebagai desa wisata berbasis wisata alam, budaya, dan edukasi.
WAWASAN. NEWS, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Koperasi Mahasiswa (Kopma) Dewantara Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menunjukkan komitmen nyata dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui program “Pariwisata Berkelanjutan melalui Desa Wisata Berbasis Eco Edu Tourism dengan Pendekatan Pentahelix” di Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
Program ini berlangsung selama empat bulan, sejak Juli hingga Oktober 2025, dengan tujuan utama memperkuat posisi Desa Ngesrepbalong sebagai desa wisata berbasis wisata alam, budaya, dan edukasi.
Melalui pendekatan kolaboratif Pentahelix, tim PPK Ormawa Kopma Dewantara UPGRIS mengintegrasikan lima unsur penting — pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media — untuk mewujudkan pengembangan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Penguatan Kapasitas Melalui Beragam Pelatihan
Pelaksanaan program diawali dengan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngesrepbalong sebagai penggerak utama pengembangan desa wisata.
Selanjutnya, dilakukan lima jenis pelatihan strategis, yaitu:
1. Pelatihan Manajemen Destinasi Wisata – untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan dan tata kelola destinasi wisata lokal.
2. Pelatihan Pengembangan Produk Wisata – agar masyarakat dapat menciptakan daya tarik dan pengalaman wisata yang khas.
3. Pelatihan Pengembangan SDM Wisata – guna meningkatkan kualitas layanan dan kesiapan masyarakat sebagai pelaku wisata.
4. Pelatihan Pemasaran dan Promosi Wisata – untuk memperkuat branding melalui media sosial dan strategi pemasaran digital.
5. Pelatihan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris – untuk meningkatkan kemampuan komunikasi Pokdarwis dalam melayani wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Melalui pendekatan Pentahelix, kami berupaya menghubungkan seluruh pemangku kepentingan agar branding Desa Wisata Ngesrepbalong melalui Balong Eco Edu Tourism dapat berjalan optimal,” ujar Putri Devintha, Ketua Tim PPK Ormawa Kopma Dewantara UPGRIS.
Menggali Potensi Alam, Budaya, dan Edukasi
Desa Ngesrepbalong dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Potensi wisata alam di antaranya perkebunan kopi dan teh Medini, hutan pinus, pemandangan perbukitan, Curug Lawe Secepit, Gua Jepang, dan Sungai Kaligading.
Kawasan ini berpotensi dikembangkan menjadi camping ground, lokasi fotografi alam, serta wisata petik dan olah teh.
Dari sisi wisata budaya, masyarakat masih melestarikan berbagai tradisi seperti gamelan, tari tradisional, dolanan anak, suronan, wayang suket, guritan, dan puisi. Potensi ini dikembangkan melalui kegiatan pelestarian budaya lokal, iriban, merti dusun, dan program “Ngrumati Gempol” sebagai bentuk cinta lingkungan dan warisan budaya.
Sedangkan untuk wisata edukasi, Ngesrepbalong memiliki kebun edukasi pertanian dan perkebunan kopi yang mendukung program seperti kelas survival, kelas membatik dengan pewarna alami, kelas tanam sendiri, kelas ecoprint, serta konservasi bibit kopi.
Dukungan Multi Pihak dan Dampak Nyata
Program ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, serta pemerintah Kecamatan Limbangan.
Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk fasilitasi, regulasi, koordinasi, dan pengarahan teknis agar pengembangan Desa Ngesrepbalong sebagai desa wisata dapat berjalan efektif.
Kolaborasi ini juga melibatkan Kepala Desa Ngesrepbalong beserta perangkatnya, BUMDes, Pokdarwis, pelaku UMKM, akademisi, serta media massa.
Melalui sinergi ini, diharapkan tercipta pariwisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat desa.
“Kolaborasi kelima unsur dalam konsep Pentahelix memungkinkan terciptanya solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan karena setiap pihak membawa perspektif dan peran yang unik,” jelas Dr. Maria Ulfah, Dosen Pendamping PPK Ormawa Kopma Dewantara UPGRIS.
Dengan keberhasilan program ini, Desa Ngesrepbalong diharapkan mampu menjadi model pengembangan desa wisata berbasis eco edu tourism di Jawa Tengah, sekaligus menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui kolaborasi lintas sektor.
***



