PGRI Perkuat Soliditas dan Profesionalisme, Jawa Tengah Jadi Role Model Nasional

Ketua PB PGRI mengapresiasi kepemimpinan PGRI Jawa Tengah yang dinilai mampu menggabungkan kemajuan organisasi dengan nilai-nilai kebersamaan.

Minggu, 26 April 2026 - 09:23 WIB
PGRI Perkuat Soliditas dan Profesionalisme, Jawa Tengah Jadi Role Model Nasional
Ketua Umum PB PGRI, Prof. Unifah didampingi Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi SH MHum

WAWASAN.NEWS, SEMARANG - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) terus menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan kemajuan pendidikan nasional melalui penguatan organisasi, peningkatan profesionalisme guru, serta kolaborasi strategis dengan pemerintah.

PGRI Jawa Tengah bahkan dinilai menjadi salah satu contoh terbaik dalam transformasi organisasi yang modern namun tetap berakar pada nilai kebersamaan.

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Unifah, menegaskan bahwa kehadirannya di Jawa Tengah bukan tanpa alasan. Ia melihat provinsi ini sebagai representasi keberhasilan PGRI dalam mengelola organisasi yang adaptif di tengah perubahan zaman.

“Kehadiran saya di Jawa Tengah tentu bukan tanpa alasan. Saya melihat bahwa PGRI Jawa Tengah merupakan salah satu organisasi yang mampu kita bawa hingga ke tingkat dunia. Organisasi ini modern, namun tetap memiliki kekuatan utama pada soliditas dan solidaritas anggotanya. Hal ini menjadi sesuatu yang unik dan tidak saya temukan di banyak tempat lain,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kepemimpinan PGRI Jawa Tengah yang dinilai mampu menggabungkan kemajuan organisasi dengan nilai-nilai kebersamaan.

“Saya juga mengapresiasi kepemimpinan di Jawa Tengah yang mampu mewakili perpaduan antara kemodernan dan nilai-nilai kebersamaan tersebut. Ini menjadi contoh penting bagi daerah lain dalam melakukan transformasi organisasi,” lanjutnya.

Di tingkat nasional, Prof. Unifah mengakui masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah. Perbedaan kualitas antar wilayah dinilai masih cukup besar dan membutuhkan perhatian serius.

“Jika kita berbicara secara nasional, memang ada banyak tantangan yang dihadapi, terutama terkait kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah. Perbedaan dari satu wilayah ke wilayah lain masih cukup besar, sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus,” jelasnya.

Dalam konteks perjuangan organisasi, ia menegaskan bahwa PGRI tidak hanya berfokus pada kesejahteraan guru, tetapi juga pada dua aspek penting lainnya, yakni perlindungan dan profesionalisme.

“Perlu saya tegaskan bahwa PGRI selama ini tidak hanya berjuang pada aspek kesejahteraan guru saja. Ada tiga pilar utama yang terus kami dorong secara bersamaan, yaitu peningkatan kesejahteraan, perlindungan, dan profesionalisme guru. Ketiganya tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Menurutnya, berbagai pelatihan yang selama ini dilakukan PGRI merupakan bentuk nyata kontribusi dalam meningkatkan kompetensi guru, meskipun sering kali kurang mendapat perhatian publik.

“Selama ini, PGRI telah melakukan berbagai pelatihan untuk meningkatkan profesionalisme guru, meskipun sering kali hal tersebut kurang mendapat perhatian. Program seperti PSLCC merupakan bagian dari transformasi struktural dan kultural yang kami lakukan agar peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dari perjuangan organisasi,” paparnya.

Lebih lanjut, Prof. Unifah juga menekankan pentingnya memperkuat representasi PGRI di tingkat nasional dengan mendorong keterlibatan generasi muda dan perempuan sebagai pemimpin masa depan.

“Saya juga menekankan pentingnya representasi di tingkat nasional. Kita perlu mendorong lebih banyak kader, termasuk generasi muda dan perempuan, untuk tampil sebagai pemimpin dan katalisator perubahan,” katanya.

Ia menilai, kesenjangan kualitas pendidikan justru menjadi alasan bagi PGRI untuk terus memperkuat soliditas dan solidaritas organisasi.

“Kesenjangan kualitas antar daerah menjadi alasan mengapa PGRI tidak boleh mundur dalam menjaga soliditas dan solidaritas. Justru dengan kekuatan tersebut, kita dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak,” ujarnya.

Di sektor pendidikan tinggi, PGRI juga mendorong adanya kesetaraan antara perguruan tinggi negeri dan swasta dalam mendidik generasi bangsa.

“Saya berharap adanya kesempatan yang setara antara perguruan tinggi negeri dan swasta. Keduanya harus didukung agar bisa berkembang bersama,” tambahnya.

Sementara itu, khusus di Jawa Tengah, ia melihat adanya kemajuan signifikan, terutama dalam hal komunikasi antara PGRI dan pemerintah daerah.

“Terkait kondisi di Jawa Tengah, saya melihat adanya kemajuan yang signifikan, terutama dalam hal komunikasi yang baik antara PGRI dan pemerintah daerah. Pengakuan terhadap guru PPPK, baik penuh waktu maupun paruh waktu, tidak lepas dari sinergi yang kuat antara organisasi dan pemangku kebijakan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa hubungan antara PGRI dan pemerintah harus terus dijaga karena keduanya merupakan mitra strategis dalam pembangunan pendidikan.

“Hubungan ini harus terus dijaga. Jika tidak dikawal secara bersama, maka berbagai kebijakan yang berpihak pada guru bisa saja terabaikan,” tegasnya.

Ke depan, Prof. Unifah berharap PGRI terus memperkuat kolaborasi dan menjaga semangat solidaritas demi kemajuan pendidikan nasional.

“Ke depan, kita harus terus memperkuat kolaborasi, menjaga solidaritas, dan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

***

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI