Mahasiswa UPGRIS Bikin Gebrakan: Wayang Orang Sriwedari Sukses Bikin Kampus Berguncang oleh Tawa

Jumat, 24 Oktober 2025 - 10:29 WIB
Mahasiswa UPGRIS Bikin Gebrakan: Wayang Orang Sriwedari Sukses Bikin Kampus Berguncang oleh Tawa
acara Festival Budaya “Gumregah Budaya, Gumebyar Nusantara” yang digelar di Kampus IV pada Kamis, 23 Oktober 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPGRIS menghadirkan pentas Wayang Orang Sriwedari dari Surakarta.

WAWASAN.NEWS, SEMARANG – Di tengah maraknya acara kampus yang dipenuhi band indie dan artis viral, mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) justru memilih langkah yang tak biasa.

Melalui acara Festival Budaya “Gumregah Budaya, Gumebyar Nusantara” yang digelar di Kampus IV pada Kamis, 23 Oktober 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPGRIS menghadirkan pentas Wayang Orang Sriwedari dari Surakarta.

Pilihan yang semula dianggap “tidak populer” itu justru berbuah kejutan besar—ruang auditorium pecah oleh gelak tawa penonton dari awal hingga akhir.

Presiden BEM UPGRIS 2025, M. Sauki Taufiqurrohman, menjelaskan bahwa keputusan menghadirkan kesenian tradisional ini bukan tanpa alasan.

“Sekarang banyak budaya lokal yang mulai hilang karena generasi muda lebih tertarik dengan budaya modern. Lewat festival ini, kami ingin mengangkat kembali kekayaan budaya daerah dan memberi ruang bagi seniman tradisional untuk tampil,” katanya dalam sambutannya.

Lawakan Punakawan Pecahkan Suasana

Begitu tirai panggung dibuka, dua sosok Punakawan legendaris—Bagong dan Gareng—langsung mencuri perhatian.

Gaya mereka yang jenaka, spontan, dan penuh improvisasi membuat penonton tak bisa menahan tawa.

Bahkan beberapa dosen dan pejabat kampus yang duduk di barisan depan ikut terpingkal-pingkal menikmati lelucon cerdas khas gaya Srimulat yang dikemas dalam nuansa pewayangan klasik.

Aksi mereka bukan hanya lucu, tapi juga sarat pesan moral. Di balik setiap candaan, terselip sindiran sosial yang cerdas—mulai dari isu mahasiswa, kehidupan kampus, hingga realitas politik.

Kombinasi antara humor klasik dan konteks kekinian membuat penampilan Wayang Orang Sriwedari terasa hidup dan relevan bagi penonton muda.

“Jarang ada acara kampus yang bisa seseru ini tanpa musik atau bintang tamu terkenal. Tapi malam ini, kami terhibur luar biasa,” ujar salah satu mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni yang hadir di barisan tengah.

Sepanjang pertunjukan, beliau berkali-kali terlihat tertawa lepas.

Dalam momen yang mengundang kehangatan, Rektor bahkan spontan memberikan saweran kepada para pemain sebagai bentuk apresiasi atas penampilan mereka yang menghibur dan penuh makna.

Dalam sambutannya setelah acara, Dr. Sri Suciati menegaskan pentingnya pelestarian budaya sebagai identitas bangsa.

“Kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa banyaknya, dan itu adalah kekuatan bangsa ini. Tugas generasi muda bukan hanya menikmati budaya populer, tapi juga menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup dan dicintai,” tuturnya.

Beliau menilai kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa mampu berperan aktif dalam menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal.

Festival yang Penuh Warna

Selain pementasan Wayang Orang Sriwedari, Festival Budaya Gumregah Budaya, Gumebyar Nusantara juga menampilkan berbagai pertunjukan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni dan budaya UPGRIS.

Beberapa di antaranya adalah UKM KIAS, Teater Gema, Gisma Choir, UKM Musik Immortal, serta PSHT yang menampilkan kolaborasi antara seni tari, musik, dan bela diri.

Semua penampilan tersebut menegaskan semangat keberagaman yang menjadi jiwa acara ini.

Ketua Panitia, Ulimmachkrisa, menyebut bahwa festival ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan kreativitas dan menunjukkan kecintaan terhadap budaya Indonesia.

“Kami ingin menunjukkan bahwa mencintai budaya bukan berarti ketinggalan zaman. Justru dari sinilah kita belajar nilai, karakter, dan jati diri bangsa,” ujarnya.

Tradisi dan Generasi: Bertemu di Panggung yang Sama

Pentas Wayang Orang Sriwedari di UPGRIS membuktikan bahwa kesenian tradisional tak pernah benar-benar usang.

Ketika dikemas dengan semangat baru, ia bisa menjadi tontonan yang segar, lucu, bahkan menggugah kesadaran budaya generasi muda.

Festival ini bukan sekadar acara kampus—tetapi juga panggung kebangkitan kesadaran budaya.

Dari tawa yang pecah malam itu, tersirat pesan mendalam: budaya bukan masa lalu—ia adalah napas yang harus terus dijaga agar bangsa ini tetap hidup dan berwarna.

***

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI