EKONOMI BIRU DAN KEBERLANJUTAN PANGAN
Oleh: Dr. Rizky Muliani Dwi Ujianti, S.Pi., M.Si.
Keberlanjutan pangan di Indonesia perlu ditopang oleh keragaman sumber pangan, baik dari daratan maupun perairan.
Selain karbohidrat, masyarakat juga memerlukan protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang memadai.
Dalam konteks tersebut, ikan dan sumber daya perairan mempunyai posisi strategis sebagai sumber pangan bergizi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2026 menunjukkan bahwa produksi perikanan dan akuakultur dunia pada 2024 telah mencapai sekitar 235 juta ton.
Dari jumlah tersebut, produksi hewan akuatik mencapai 195 juta ton. Produksi hewan akuatik dari akuakultur bahkan telah melampaui 100 juta ton dan menyumbang sekitar 53 persen dari total produksi hewan akuatik dunia.
Pangan akuatik juga menyediakan sedikitnya seperlima asupan protein hewani bagi sekitar 3,1 miliar penduduk dunia (FAO, 2026).
Data tersebut menegaskan bahwa masa depan pangan dunia tidak hanya berada di daratan, tetapi juga pada laut, pesisir, sungai, dan berbagai sistem budidaya perairan.
Indonesia mempunyai peluang besar dalam pengembangan pangan akuatik karena memiliki wilayah perairan yang luas, garis pantai yang panjang, sumber daya manusia perikanan, serta keanekaragaman komoditas tangkap dan budidaya.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan bahwa pada 2024 produksi lele nasional mencapai 1.157.755 ton, nila 1.563.327 ton, bandeng 792.864 ton, dan udang sekitar 958.463 ton.
Produksi lele meningkat dibandingkan 2023 yang mencapai 1.136.619 ton. Angka tersebut menunjukkan bahwa ikan air tawar dan komoditas budidaya telah menjadi bagian penting dalam penyediaan pangan masyarakat Indonesia (KKP, 2025).
Namun, tingginya produksi belum tentu menjamin keberlanjutan pangan.
Manfaat peningkatan produksi akan semakin kuat apabila diikuti keterjangkauan harga, peningkatan mutu, dan pengelolaan lingkungan yang baik.
Oleh sebab itu, keberlanjutan pangan harus dilihat sebagai satu kesatuan antara ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan, keamanan, dan kestabilan pasokan.
Di sinilah konsep ekonomi biru menjadi relevan. Ekonomi biru bukan sekadar kegiatan ekonomi yang berlangsung di laut atau menggunakan komoditas perikanan.
Ekonomi biru merupakan pendekatan pembangunan yang memanfaatkan sumber daya perairan secara efisien, berkeadilan, dan berkelanjutan untuk menghasilkan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kesehatan ekosistem.
Daya Dukung Lingkungan Budidaya dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat
Sektor perikanan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memenuhi kebutuhan pangan.
Peningkatan produksi perikanan dapat memperkuat rantai pasok, mengembangkan kegiatan pengolahan, serta membuka peluang usaha baru.
Manfaat tersebut akan semakin optimal apabila didukung pengelolaan kepadatan budidaya, kualitas air, penggunaan pakan, limbah, dan daya dukung lingkungan secara tepat.
Melalui penerapan ekonomi biru, peningkatan nilai ekonomi dapat berjalan selaras dengan keberlanjutan sumber daya perairan.
Lingkungan perairan yang terjaga menjadi modal penting untuk mendukung produktivitas, kesehatan ikan, efisiensi biaya, dan ketersediaan pangan secara berkelanjutan.
Selain itu, kualitas air merupakan faktor penting dalam keberhasilan budidaya perikanan.
Parameter seperti suhu, tingkat keasaman, amonia, nitrit, nitrat, fosfat, dan oksigen terlarut berpengaruh terhadap pertumbuhan serta kelangsungan hidup organisme budidaya.
Oleh karena itu, jumlah benih, kepadatan ikan, dan pemberian pakan perlu disesuaikan dengan kondisi kolam agar kualitas air, produktivitas, dan keberlanjutan budidaya tetap terjaga.
Tantangan ekonomi biru tidak hanya berada pada aspek lingkungan.
Penguatan pelaku perikanan skala kecil dapat diarahkan pada peningkatan akses modal, efisiensi pakan, pemanfaatan teknologi, dan harga komoditas perikanan di pasaran.
Pembudidaya dapat menghasilkan ikan dalam jumlah besar, tetapi belum tentu memperoleh keuntungan yang memadai apabila biaya produksinya tinggi atau harga jualnya ditentukan oleh rantai perdagangan yang panjang.
Pakan merupakan salah satu persoalan utama dalam perikanan budidaya. Biaya pakan dapat mencapai sekitar 60–70 persen dari keseluruhan biaya produksi.
Penggunaan pakan komersial memerlukan strategi efisiensi agar keuntungan pembudidaya tetap terjaga ketika harga pakan mengalami perubahan.
Oleh karena itu, pengembangan pakan mandiri berbahan baku lokal menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi usaha (KKP, 2023).
Namun, penggunaan bahan baku lokal tidak berarti semua limbah pertanian atau bahan organik dapat langsung dijadikan pakan.
Formulasi pakan harus memperhatikan kandungan protein, lemak, serat, kadar air, mineral, daya cerna, keamanan, dan kebutuhan nutrisi setiap jenis ikan.
Bahan yang murah belum tentu ekonomis apabila menyebabkan pertumbuhan ikan lambat atau menghasilkan banyak limbah.
Efisiensi pakan perlu diukur melalui rasio konversi pakan atau feed conversion ratio. Semakin banyak pakan yang diperlukan untuk menghasilkan satu kilogram ikan, semakin tinggi pula biaya dan beban lingkungan yang ditimbulkan.
Oleh karena itu, ekonomi biru membutuhkan perhitungan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah produksi, tetapi juga pada penggunaan sumber daya untuk menghasilkan setiap kilogram produk.
Peluang berikutnya adalah meningkatkan nilai tambah produk perikanan. Ikan masih sering dijual dalam bentuk segar dengan harga yang fluktuatif. Ketika panen melimpah dan pasar tidak mampu menyerap produk, harga di tingkat pembudidaya dapat menurun.
Padahal, ikan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti ikan tanpa duri, ikan berbumbu, abon, bakso, nugget, sosis, kerupuk, maupun produk beku siap masak.
Pengolahan hasil dapat memperpanjang masa simpan, mengurangi risiko kerugian saat panen, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Akan tetapi, hilirisasi harus disertai dengan penerapan sanitasi, keamanan pangan, pengemasan, penyimpanan dingin, legalitas usaha, sertifikasi halal, dan pembukuan yang baik.
Adanya ekonomi biru dapat mendorong peningkatan produksi bahan mentah, memperkuat industri pengolahan, rantai dingin, distribusi, pemasaran, dan perlindungan terhadap pelaku usaha skala kecil.
Kampung Tematik Lele (KATELE) Berteknologi Digital
Perkembangan teknologi digital membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi perikanan.
Teknologi Internet of Things dapat digunakan untuk memantau kualitas air secara waktu nyata, sedangkan sensor dapat membantu mengukur suhu, pH, kekeruhan, dan kondisi lingkungan budidaya (Ujianti dkk., 2023; Ujianti dkk., 2024).
Data yang dikumpulkan dapat digunakan sebagai dasar dalam pemberian pakan, pergantian air, pengoperasian aerator, dan pencegahan kematian ikan.
Energi terbarukan juga dapat diterapkan untuk mendukung kegiatan perikanan.
Kincir atau aerator bertenaga surya dapat membantu menjaga ketersediaan oksigen di dalam kolam (Ujianti dkk., 2026), sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi listrik konvensional.
Penggunaan energi surya menjadi relevan karena biaya energi merupakan salah satu komponen operasional yang harus ditanggung pembudidaya.
Meskipun demikian, modernisasi akan semakin bermakna apabila pengadaan alat disertai pelatihan, pendampingan, dan perawatan yang berkelanjutan.
Teknologi hanya akan memberikan manfaat apabila sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mudah dioperasikan, dapat dirawat, dan mempunyai dampak yang terukur.
Indikator keberhasilannya bukan banyaknya perangkat yang dipasang, melainkan penurunan kematian ikan, perbaikan kualitas air, efisiensi energi, peningkatan hasil panen, dan bertambahnya keuntungan usaha.
Pemantauan kualitas air berbasis IoT, budidaya pada lahan terbatas, pemanfaatan energi surya, pelatihan cara budidaya ikan yang baik, diversifikasi produk, dan pemasaran digital dikembangkan sebagai satu rangkaian.
Pengalaman penerapan budidaya perikanan berbasis teknologi di Kelurahan Kembangarum, Kota Semarang, memberikan gambaran mengenai hal tersebut.
Kegiatan ini merupakan program Pemberdayaan Wilayah (PW), yang berlangsung selama 3 tahun, mulai 2024 hingga 2026, yang didanai oleh DPPM Kemendiktisaintek.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari LPPM Universitas PGRI Semarang, Universitas AKI Semarang, Dinas Perikanan Kota Semarang, Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang, dan Kelurahan Kembangarum Kota Semarang.
KATELE bukanlah satu-satunya model yang dapat diterapkan. Setiap wilayah mempunyai komoditas, karakter wilayah dan lingkungan yang berbeda, sumber daya manusia, serta kebutuhan yang berbeda.
Namun, prinsip yang digunakan dapat direplikasi, yaitu memadukan produksi pangan, teknologi tepat guna, energi terbarukan, pengelolaan limbah, pengolahan hasil, dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa teknologi akan lebih bermakna apabila diterapkan bersama pendampingan, penguatan kelembagaan, dan peningkatan keterampilan masyarakat.
Ekonomi Biru yang Sirkular dan Inklusif
Salah satu prinsip ekonomi biru adalah mengurangi limbah melalui penggunaan kembali sumber daya.
Limbah dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi kegiatan lainnya setelah melalui pengolahan yang aman.
Sisa hasil pengolahan ikan dapat dikembangkan menjadi tepung ikan, pakan, pupuk, atau produk lainnya. Namun, konsep tanpa limbah atau zero waste tidak berarti semua limbah dapat langsung dimanfaatkan.
Limbah tetap harus diuji dan diolah agar tidak mengandung bahan berbahaya, patogen, atau senyawa yang dapat mencemari lingkungan.
Ekonomi sirkular bukan sekadar memindahkan limbah, tetapi mengubahnya menjadi sumber daya baru dengan tetap memperhatikan keamanan dan kelayakan.
Selain sirkular, ekonomi biru harus bersifat inklusif. Manfaat ekonomi perlu menjangkau nelayan, pembudidaya, pengolah, pedagang, perempuan, serta kelompok masyarakat pesisir secara luas.
Nelayan kecil, pembudidaya, pengolah ikan, pedagang, perempuan, dan kelompok masyarakat pesisir harus menjadi bagian utama dalam rantai ekonomi.
Penguatan kelompok, koperasi, akses pembiayaan, pelatihan, dan kepastian pasar diperlukan agar masyarakat dapat berkembang sebagai produsen, pengolah, dan pelaku pemasaran dengan posisi usaha yang semakin kuat.
Keterlibatan perempuan, misalnya Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), juga mempunyai peran penting.
Perempuan banyak terlibat dalam pengolahan, pemasaran, pengelolaan keuangan, dan pemenuhan pangan keluarga.
Pemberdayaan perempuan melalui usaha olahan ikan dapat menghasilkan manfaat ganda, yaitu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus memperbaiki akses rumah tangga terhadap pangan bergizi.
Dengan demikian, keberhasilan ekonomi biru setidaknya dapat dinilai melalui empat aspek utama.
Pertama, tata kelola sistem ekologis yang ditunjukkan melalui berkurangnya pencemaran dan limbah.
Kedua, partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya.
Ketiga, bertambahnya lapangan kerja, usaha, dan pendapatan.
Keempat, inovasi serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, teknologi, dan pasar.
Pada akhirnya, ekonomi biru tidak hanya berbicara tentang berapa ton ikan yang dapat diproduksi atau berapa besar nilai ekonominya.
Ekonomi biru berbicara mengenai kemampuan kita menghasilkan pangan tanpa merusak sumber daya yang menjadi tempat pangan tersebut berasal.
Laut, pesisir, tambak, sungai, dan kolam merupakan modal penting bagi keberlanjutan pangan Indonesia.
Pengelolaan yang berorientasi jangka panjang, berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, partisipasi masyarakat, dan daya dukung lingkungan akan menjaga produktivitas sekaligus memperkuat mata pencaharian masyarakat.
Sebaliknya, jika dikelola berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi, partisipasi masyarakat, dan daya dukung lingkungan, sektor perikanan dapat menjadi fondasi penting keberlanjutan pangan Indonesia.
Membangun keberlanjutan pangan melalui ekonomi biru berarti menghasilkan pangan yang cukup, bergizi, aman, terjangkau, dan dapat terus tersedia bagi generasi mendatang.
Pada titik inilah pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan tidak lagi ditempatkan sebagai kepentingan yang saling bertentangan, tetapi sebagai tujuan yang harus diwujudkan secara bersamaan.
Artikel ini merupakan luaran Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Wilayah tahun pendanaan 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Biodata penulis:
Dr. Rizky Muliani Dwi Ujianti, S.Pi., M.Si.
Dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang
Ketua tim Peraih Pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat Multiyears (2024–2026) dari DPPM Kemendiktisaintek yang berjudul PW Rintisan Kampung Tematik Lele (KATELE) Ramah Lingkungan Berteknologi Digital berbasis Blue Economy di Kelurahan Kembangarum Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang



