Sambut Musim Hujan, Warga Desa Pasekan Eromoko Gelar Sedekah Bumi
WONOGIRI – Suasana kebersamaan tampak pada gelaran tradisi Sedekah Bumi di Petilasan Syekh Bela-Belu, Desa Pasekan, Kecamatan Eromoko, Senin (26/10/2026). Masyarakat tumplek blek menikmati bersama Pelaksana Tugas (Plt) Camat Eromoko, Sangga Ota Kharisma, dan Kepala Desa Pasekan, Sutaryo.
Kegiatan itu menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus upaya melestarikan tradisi leluhur dalam menyambut datangnya musim hujan dan dimulainya musim tanam. Kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan makan bersama, pertunjukan kesenian reog, serta sebar koin Rp1.000 kepada warga yang turut memeriahkan kegiatan.
Dalam sambutannya, Plt Camat Eromoko, Sangga, menekankan pentingnya menjaga kelestarian tradisi leluhur sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat. Menurutnya, tradisi Sedekah Bumi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.
“Tradisi Sedekah Bumi ini merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu kita jaga dan lestarikan bersama. Momentum menyambut musim hujan ini juga menjadi pengingat bagi kita, untuk senantiasa bersyukur atas anugerah Tuhan, sekaligus berharap agar musim tanam berjalan lancar, pertanian diberikan kesuburan, dan masyarakat memperoleh hasil panen yang baik,” kata Sangga.
Dia juga berharap agar tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu, terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda. Dengan demikian, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap budaya lokal, dapat terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Kepala Desa Pasekan, Sutaryo, menyampaikan, Sedekah Bumi merupakan tradisi yang masih dijaga erat oleh masyarakat Desa Pasekan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur, tetapi juga momentum untuk menyambut musim hujan, dengan harapan agar ketersediaan air mencukupi kebutuhan pertanian dan aktivitas masyarakat.
“Melalui Sedekah Bumi, kami berharap pertanian masyarakat dapat berjalan dengan baik, diberikan kesuburan, serta menghasilkan panen yang membawa manfaat bagi seluruh warga,” tutur Sutaryo.
Ditambahkan, salah satu kegiatan utama dalam pelaksanaan Sedekah Bumi adalah doa bersama di Petilasan Syekh Bela-Belu. Tradisi itu dilaksanakan pada hari Senin Legi, khususnya menjelang musim tanam atau musim labuhan, sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sutaryo mengatakan, sebagian besar masyarakat Desa Pasekan memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Maka, datangnya musim hujan memiliki arti penting bagi kehidupan mereka.
“Hujan diharapkan membawa ketersediaan air yang cukup bagi lahan pertanian sehingga proses pengolahan tanah, penanaman, hingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung dengan baik,” ungkapnya.
Pada momen doa bersama, masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas karunia yang telah diterima, sekaligus memanjatkan harapan agar musim hujan membawa manfaat, keselamatan, dan keberkahan. Masyarakat juga berharap terhindar dari berbagai hambatan dalam menjalani musim tanam, sehingga dapat memperoleh hasil pertanian yang baik.
Selain doa bersama, rangkaian kegiatan Sedekah Bumi diwarnai dengan penyajian berbagai hidangan yang dipersiapkan secara gotong royong oleh masyarakat. Warga bekerja sama menyiapkan dan menata makanan untuk dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan.
Menurut Sutaryo, makan bersama menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan dalam tradisi tersebut. Masyarakat berkumpul, berinteraksi, dan berbagi hidangan sebagai wujud kerukunan serta rasa syukur atas kebersamaan yang terjalin.
Kegiatan itu sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga. Semangat gotong royong yang terlihat sejak persiapan hingga pelaksanaan diharapkan terus terpelihara, dan menjadi modal penting dalam mendukung kehidupan bermasyarakat serta pembangunan desa.
Kemeriahan Sedekah Bumi Desa Pasekan semakin terasa dengan hadirnya pertunjukan kesenian reog. Kesenian tradisional tersebut menjadi hiburan bagi masyarakat sekaligus bagian dari upaya menjaga keberadaan seni budaya lokal. Kehadiran seni budaya dalam kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan generasi muda untuk mengenal, menghargai, dan turut melestarikan warisan budaya.
Selain pertunjukan kesenian reog, kegiatan juga dimeriahkan dengan sebar koin Rp1.000 kepada warga. Kegiatan tersebut menambah antusiasme masyarakat dan semakin memeriahkan suasana pelaksanaan tradisi Sedekah Bumi Desa Pasekan.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur dalam menyambut musim hujan dan musim tanam, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga identitas budaya masyarakat. Melalui pelaksanaan Sedekah Bumi di Petilasan Syekh Bela-Belu, masyarakat Desa Pasekan diharapkan terus menjaga tradisi leluhur, memperkuat kerukunan, serta memelihara semangat gotong royong.*



