Rizal Taufikurrahman: Danantara Harus Lebih Agile dan Efisien dari Model Lama BUMN

Dalam jangka pendek, Rizal mendorong Danantara fokus melakukan investasi di sektor-sektor yang memiliki dampak luas terhadap ekonomi nasional, terutama industri hilirisasi dan sektor padat karya.

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:00 WIB
Rizal Taufikurrahman: Danantara Harus Lebih Agile dan Efisien dari Model Lama BUMN
Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance Rizal Taufikurrahman

WAWASAN.NEWS, SEMARANG — Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance Rizal Taufikurrahman menilai kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), dapat menjadi momentum penting dalam memperbaiki tata kelola BUMN sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. 

Menurut Rizal, pembentukan Danantara memunculkan diskursus yang sehat di tengah masyarakat karena banyak pihak menaruh harapan besar terhadap sovereign wealth fund (SWF) milik Indonesia tersebut.

“Saya kira ini diskursus yang sangat bagus dan menjadi rujukan serta literasi dalam berbagai isu kebijakan. Pendapat positif maupun negatif sama-sama penting untuk memperbaiki Danantara. Kita cinta terhadap bangsa ini tentu melalui perbaikan institusi baru yang dibuat ini,” ujar Rizal.

Ia menjelaskan, keberadaan SWF di sejumlah negara seperti Singapura dan Malaysia memang dapat dijadikan referensi.

Namun, model pengelolaan di Indonesia tidak bisa sepenuhnya meniru negara lain karena memiliki karakteristik ekonomi dan struktur kelembagaan yang berbeda.

“Template-nya tidak selalu sama dengan Indonesia. Tantangannya bagaimana memberikan masukan, prospek, dan harapan agar Danantara menjadi lembaga SWF yang mampu memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Rizal menilai saat ini Danantara masih berada dalam tahap awal konsolidasi dan restrukturisasi BUMN.

Proses tersebut, menurutnya, sangat penting untuk menciptakan perusahaan negara yang lebih sehat, efisien, dan produktif.

“Danantara baru hampir setahun dibentuk. Saya kira sekarang sedang melakukan restrukturisasi dari holding, subholding, sampai anak-cucu perusahaan BUMN agar lebih efisien. Mereka juga sedang melakukan financial consolidation dari setiap BUMN,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa fokus utama yang harus dibangun sejak awal adalah tata kelola atau governance.

Menurutnya, keberhasilan Danantara sangat ditentukan oleh kemampuan memperbaiki manajemen dan efisiensi BUMN yang selama ini memiliki kondisi beragam.

“BUMN itu ada yang sehat, ada yang sakit, ada yang batuk-batuk. Itu harus disehatkan dan dipilah-pilah terlebih dahulu. Governance menjadi penting di tahap awal,” ujarnya.

Rizal mengingatkan agar proses restrukturisasi tidak sampai menurunkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional.

Selama ini, kata dia, BUMN masih memiliki peran besar dalam mendukung produk domestik bruto (PDB) nasional dan penyerapan tenaga kerja.

“Kontribusi BUMN terhadap PDB selama ini sekitar 16 sampai 20 persen. Jangan sampai konsolidasi dan restrukturisasi justru mengurangi kontribusi itu. Penyerapan tenaga kerja juga mencapai sekitar 1,6 juta orang dan itu memberikan multiplier effect bagi ekonomi,” katanya.

Ia berharap kehadiran Danantara justru mampu meningkatkan kontribusi BUMN terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengelolaan yang lebih modern dan profesional.

“Danantara sebagai SWF punya peluang jauh lebih efisien dan lebih agile. Tata kelolanya juga harus lebih baik dibanding sebelumnya. Setelah ada Danantara, kontribusinya terhadap ekonomi harus jauh lebih besar,” ujar Rizal.

Dalam jangka pendek, Rizal mendorong Danantara fokus melakukan investasi di sektor-sektor yang memiliki dampak luas terhadap ekonomi nasional, terutama industri hilirisasi dan sektor padat karya.

“Danantara harus melakukan investasi pada holding-holding yang memberikan multiplier effect besar, misalnya industri dan hilirisasi yang benar-benar memberi nilai tambah signifikan,” katanya.

Menurutnya, sektor-sektor seperti perdagangan, pertanian, logistik, hingga perumahan perlu menjadi perhatian utama karena memiliki kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja dan menjaga daya beli masyarakat.

“Selain sektor padat modal, sektor padat karya juga harus didorong. Contohnya perdagangan, pertanian, logistik, dan perumahan. Ini penting karena daya beli masyarakat sedang melambat,” jelasnya.

Rizal juga menilai Danantara harus mampu mengidentifikasi sektor ekonomi yang paling dominan memberi kontribusi terhadap PDB nasional, seperti industri manufaktur, pertanian, dan perdagangan.

“Tidak hanya dari sisi kelembagaan, tetapi juga sumber daya manusianya harus diperhatikan. Danantara harus bisa berkontribusi terhadap pengembangan sektor-sektor utama ekonomi nasional,” ujarnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya proyek-proyek strategis yang dijalankan Danantara agar benar-benar memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk proyek energi dan pengelolaan limbah.

“Proyek-proyek besar seperti energi dari waste itu harus punya multiplier effect, bisa menyerap tenaga kerja, dan berkontribusi terhadap PDB maupun PDRB daerah,” katanya.

Rizal juga mendorong Danantara memperkuat kolaborasi dengan BUMD dan sektor swasta agar menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi yang lebih luas.

“Kerja sama dengan BUMD dan lembaga usaha swasta penting agar Danantara benar-benar menjadi agen pembangunan ekonomi,” ujarnya.

Terkait pengalaman restrukturisasi sejumlah sektor BUMN sebelumnya yang dinilai belum optimal, Rizal menegaskan Danantara harus melakukan pembenahan menyeluruh, terutama pada aspek tata kelola perusahaan.

“Harus ada perbaikan. Tidak hanya financial consolidation, tetapi juga manajemennya. Upaya pembenahan BUMN tidak cukup hanya dari sisi uang, tapi juga tata kelola,” tegasnya.

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI