Resik-Resik Ponpes, Taj Yasin Dorong Santri Pilah dan Daur Ulang Sampah
PEMALANG – Menjelang Hari Santri 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kanwil Kemenag Jateng menginisiasi gerakan Resik-resik lingkungan pondok pesantren. Gerakan serentak di 117 pesantren itu dilandasi semangat kebersamaan, selaras dengan nilai perjuangan Resolusi Jihad yang menjadi roh pada peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, budaya bersih-bersih harus menjadi semangat untuk para santri. Apalagi, di lingkungan pondok pesantren mengenal budaya Ro’an atau bersih-bersih lingkungan, yang rutin digelar seminggu sekali.
Dia menjelaskan, budaya cinta lingkungan merupakan salah satu bentuk kontribusi santri pada penguatan karakter bangsa.
“Hari ini kita resik-resik, jika ada kegiatan sampahnya jangan dibuang (sembarangan). Kantongi sampahnya, kalau ketemu tempat sampah baru buang,” ujarnya, di Pesantren Roudlotul Mubtadiin, Desa Pesantren, Kecamatan Ulu Jami Selasa (20/10/2026).
Tidak cukup sampai di situ, Gus Yasin juga mendorong agar santri dan pengelola pondok pesantren mampu memilah dan mendaur ulang sampah.
Pada kesempatan tersebut dia juga memberikan motivasi, bagaimana KH Hasyim Asy’ari mampu menggelorakan semangat santri melalui Resolusi Jihad. Gerakan mengusir penjajah 81 tahun silam itu, akhirnya mengilhami peringatan Hari Santri yang rutin diselenggarakan tiap 22 Oktober.
Gus Yasin menyampaikan, perhatian Pemprov Jateng pada dunia pendidikan Islam dan pesantren diwujudkan dalam beberapa hal. Di antaranya, pemberian santunan kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak. Selain itu, pengajar keagamaan di Jateng juga mendapat insentif.
Kepala Kanwil Kementerian Agama Jateng, Saiful Mujab mengatakan, resik-resik ponpes merupakan rangkaian menyongsong Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026.
“Termasuk besok (21 Oktober) ada Bimas Islam nikah (Pak Yai Bu Nyai Mantu 500 santri) di MAJT. Nanti upacaranya dipusatkan di Tegal. Termasuk kemarin Pak Wagub memberikan beasiswa kepada santri dan mahasantri,” ujarnya.
Santri Ponpes Roudlotul Mubtadiin Pemalang, Haikal, mendukung gerakan tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut menguatkan tradisi Ro’an yang telah berjalan di lingkungan pondok.
“Karena kalau tidak bersih itu banyak kuman, lalu menyebabkan sakit. Jadinya harus selalu menjaga kebersihan. Kalau Ro’an kita setiap Jumat, bersih-bersih aula atau lorong kompleks,” pungkasnya. (Pd/Ul, Diskomdigi Jateng)



