Kerajinan Jepara Tarik Perhatian Delegasi Asing
JEPARA – Keindahan motif dan kerumitan detail ukiran kayu Jepara berhasil menarik perhatian Duta Besar Rumania, Mr Dan Adrian Balanescu karena nilainya yang autentik dan tidak dapat digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Hal itu disampaikannya saat mengunjungi Jepara Octofest 2026, di Sentra Patung dan Relief Mulyoharjo, Rabu (4/11/2026). Menurutnya, masyarakat Rumania banyak yang menggunakan ukiran Jepara, untuk desain interior dan taman.
“Ukiran kayu Jepara sangat bagus dengan menunjukkan skill, yang tidak semua orang bisa. Saya yakin, kerajinan ukir khas Jepara mampu menembus pasar internasional,” jelasnya, melalui juru bicaranya.
Karena itu, lanjutnya, perkembangan AI seharusnya menjadi peluang untuk mendukung kreativitas, bukan ancaman bagi keberadaan perajin. Teknologi dapat membantu melahirkan gagasan desain baru, sedangkan nilai artistik, sentuhan tangan, dan karakter karya tetap menjadi kekuatan manusia.
Senada, Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar Meksiko di Jakarta, Rodrigo Vázquez Ortega juga mengaku tertarik dengan kerajinan Jepara, seperti produk mebel dan batik Jepara.
“I think we share a lot of similarities between Indonesia and Mexico. Diversity patterns, ways of producing the manufactured and the products and the services. So I believe there’s a lot of market in Mexico. (Saya pikir Indonesia dan Meksiko memiliki banyak kesamaan, mulai dari keragaman motif hingga cara memproduksi barang, produk, dan jasa. Karena itu, saya yakin ada banyak peluang pasar di Meksiko),” ujar Rodrigo.
Rodrigo bahkan berencana membawa sampel produk untuk diperkenalkan kepada pemerintah dan masyarakat Meksiko. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka jalan bagi pengenalan produk industri kecil dan menengah (IKM) Indonesia, di pasar negaranya.
“Of course. That’s why I’m taking these samples to let my government and my people know about what Indonesia is doing with the small and the medium companies. (Tentu. Itulah alasan saya membawa sampel ini, agar pemerintah dan masyarakat saya mengetahui apa yang dilakukan Indonesia, melalui perusahaan kecil dan menengah,” kata dia.
Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Jepara, Syahnez Danniar Yusuf menjelaskan, galeri tersebut menjadi salah satu sarana pengembangan dan promosi kerajinan lokal. Upaya yang dilakukan mencakup pelatihan, pendampingan kualitas, serta fasilitasi pemasaran bagi para perajin.
“Dekranasda adalah mitra strategis pemerintah daerah, dalam mengembangkan kerajinan lokal, meningkatkan kapasitas perajin, serta memperluas pemasaran melalui pelatihan, pendampingan kualitas, dan fasilitasi promosi,” ujarnya.
Dituturkannya, Galeri Dekranasda Jepara mulai beroperasi pada Agustus 2025. Saat ini, terdapat 120 IKM yang bergabung dengan menampilkan produk unggulan, mulai dari seni ukir, tenun Troso, batik Jepara, fesyen, hingga kerajinan tangan.
“Kami berharap, produk yang menarik perhatian Bapak dan Ibu dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan, sekaligus menjadi jembatan untuk memperkenalkan kerajinan Jepara di negara masing-masing,” kata dia.
Selain mengunjungi Galeri Dekranasda, sejumlah diplomat asing juga mengunjungi SMP Negeri 6 Jepara, Rabu (14/11/2026), memperkenalkan sejarah sekolah, yang berawal dari Sekolah Teknik Ukir pada 1956.
Para diplomat menyaksikan siswa mempraktikkan seni ukir dan membatik. Mereka juga mencoba mengukir, sebelum mengunjungi Museum Ukir di lingkungan sekolah.
Kepala SMPN 6 Jepara, Siti Rosiyanah menjelaskan, sekolah tersebut memiliki sejarah panjang dalam pendidikan seni ukir. Pada 1956, sekolah itu dikenal sebagai Sekolah Teknik Ukir yang mengajarkan keterampilan perkayuan dan seni ukir tradisional. Meski kini berkembang menjadi sekolah menengah pertama, sekolah tetap mempertahankan keterampilan tersebut melalui kegiatan seni ukir kayu dan batik.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara, Ratib Zaini berharap, kunjungan tersebut membuka peluang kerja sama pendidikan lintas negara. Peluang yang diharapkan mencakup pertukaran siswa dan guru, kerja sama pendidikan dan kebudayaan, serta peningkatan kemampuan bahasa asing.
Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, HE Sten Frimodt Nielsen mengapresiasi keterampilan yang diperlihatkan siswa. Ia menilai pendidikan harus berjalan beriringan, dengan upaya menjaga warisan budaya.
“You are the future of Indonesia. (Kalian adalah masa depan Indonesia),” tutur Sten.
Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar berharap, Octofest 2026 membuka peluang perdagangan dan kemitraan internasional bagi industri mebel, seni ukir, dan kerajinan lokal.
Karenanya, dia mengajak para diplomat berinteraksi langsung dengan pelaku usaha, untuk menjajaki peluang pasar, investasi, dan transfer pengetahuan.
“Kami berharap, kunjungan ini tidak berhenti pada pengenalan produk, tetapi berkembang menjadi hubungan bisnis dan kerja sama yang konkret serta berkelanjutan,” ujarnya.



