Inovasi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal, Dorong Kemampuan Computational Thinking Siswa

Budaya Semarangan seperti Warak Ngendok dapat diintegrasikan dalam pembelajaran biologi, khususnya pada materi keanekaragaman hayati. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Rabu, 29 April 2026 - 11:07 WIB
Inovasi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal, Dorong Kemampuan Computational Thinking Siswa
Miniatur Warak Ngendok hasil kreativitas murid SMA N 11 Semarang dalam pembelajaran Keanekaragaman Hayati berbasis kearifan lokal

WAWASAN.NEWS, SEMARANG - Transformasi pendidikan abad ke-21 menuntut lebih dari sekadar penguasaan materi.

Peserta didik kini dituntut memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi, salah satunya computational thinking (CT) yang mencakup decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algorithmic thinking.

Kemampuan ini tidak hanya relevan dalam dunia teknologi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, integrasi CT dalam pembelajaran, termasuk pada mata pelajaran biologi, menjadi kebutuhan mendesak.

Di tengah tuntutan tersebut, pemerintah melalui kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025 memperkenalkan pendekatan Deep Learning yang berfokus pada ketercapaian delapan Dimensi Profil Lulusan sebagai standar kompetensi.

Dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan tantangan besar. Hasil asesmen internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) menempatkan kemampuan literasi membaca, literasi sains, dan numerasi siswa Indonesia di bawah rata-rata global.

Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan dalam efektivitas pembelajaran yang selama ini masih didominasi metode konvensional.

Minimnya ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas serta keterampilan berpikir tingkat tinggi, ditambah kurangnya keterkaitan antara materi pelajaran dengan kehidupan nyata, menjadi faktor utama rendahnya capaian tersebut.

Dalam pembelajaran biologi, khususnya materi keanekaragaman hayati, siswa kerap hanya bergantung pada buku teks dan gambar tanpa mengalami pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.

Menanggapi kondisi ini, dosen Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang, Eko Retno Mulyaningrum MPd, menegaskan pentingnya inovasi dalam pembelajaran. 

“Penting adanya inovasi dalam pembelajaran serta kajian mendalam untuk menganalisis hubungan antara kemampuan computational thinking murid dengan ketercapaian Dimensi Profil Lulusan," paparnya.

Menurut Eko Retno Mulyaningrum, pengembangan CT tidak bisa dipisahkan dari pencapaian dimensi profil lulusan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari keimanan hingga kemampuan komunikasi.

Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran harus dirancang secara lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa.

Salah satu strategi yang dinilai efektif adalah implementasi Deep Learning berbasis kearifan lokal.

Budaya Semarangan seperti Warak Ngendok dapat diintegrasikan dalam pembelajaran biologi, khususnya pada materi keanekaragaman hayati.

Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

“Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan praktik pembelajaran mendalam yang kontekstual, bermakna, dan berbasis budaya lokal,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Rivanna Citraning Rakhmawati MPd mengungkapkan bahwa kemampuan computational thinking memiliki korelasi positif dengan ketercapaian Dimensi Profil Lulusan.

Ia menekankan bahwa pendekatan Deep Learning memiliki ciri khas pada relevansi dengan konteks sosial-budaya peserta didik.

“Pengembangan kemampuan computational thinking murid dapat berkorelasi positif terhadap ketercapaian Dimensi Profil Lulusan, karena pendekatan Deep Learning menekankan relevansi dengan konteks sosial-budaya murid,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rivanna Citraning Rakhmawati menjelaskan bahwa integrasi kearifan lokal tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat identitas budaya siswa.

Hal ini menjadi penting dalam membangun rasa bangga terhadap budaya daerah di tengah arus globalisasi.

Materi keanekaragaman hayati sendiri dinilai memiliki potensi besar dalam mengembangkan kemampuan CT sekaligus mendukung ketercapaian profil lulusan.

Proses klasifikasi, identifikasi pola, hingga generalisasi dalam materi ini sangat relevan dengan komponen computational thinking.

Selain itu, pembelajaran kontekstual pada materi ini juga dapat menumbuhkan sikap peduli lingkungan, meningkatkan kemampuan kolaborasi, serta mendorong kreativitas siswa dalam memanfaatkan sumber daya lokal.

Salah satu implementasi konkret adalah melalui proyek pembuatan miniatur ikon budaya Semarangan.

Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan pembelajaran yang bermakna, tetapi juga berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal.

Nilai-nilai toleransi dan keberagaman yang terkandung dalam kearifan lokal Semarangan dapat menjadi media efektif untuk mengaitkan konsep biologi dengan pengalaman nyata siswa.

Dengan demikian, inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal bukan sekadar alternatif, melainkan menjadi kebutuhan strategis dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini.

Integrasi antara computational thinking, Deep Learning, dan budaya lokal diyakini mampu menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.

***

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI