99,3 Persen PAUD Jateng Dikelola Masyarakat, Kader PKK hingga Pengurus RW Turut Mengajar

Kamis, 5 November 2026 - 18:42 WIB
99,3 Persen PAUD Jateng Dikelola Masyarakat, Kader PKK hingga Pengurus RW Turut Mengajar

SEMARANG – Sebanyak 99,3 persen dari 27.700 satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jawa Tengah, dikelola oleh masyarakat. Dalam penyelenggaraannya, berbagai unsur masyarakat turut terlibat sebagai tenaga pendidik, mulai dari kader PKK, kader Posyandu, anggota majelis taklim, hingga pengurus rukun warga (RW).

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sadimin, saat membuka Sosialisasi PAUD Emas secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (5/11/2026). Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penyediaan layanan pendidikan anak usia dini di Jawa Tengah. Melalui program PAUD Emas, Pemprov Jateng mendorong partisipasi dan swadaya masyarakat untuk memperluas akses pendidikan bagi anak usia dini.

“Dari sekitar 27.700 satuan PAUD di Jateng, hanya 214 satuan atau sekitar 0,7 persen yang berstatus negeri. Sementara 99,3 persen lainnya merupakan PAUD yang diselenggarakan masyarakat. Ini menunjukkan tingkat partisipasi, kepedulian, dan semangat gotong royong masyarakat Jawa Tengah dalam menyediakan layanan PAUD sangat tinggi,” ujarnya.

Dijelaskan, secara keseluruhan, terdapat 27.700 satuan PAUD yang terdiri atas 14.432 Taman Kanak-Kanak (TK), 9.943 Kelompok Bermain (KB), 559 Taman Penitipan Anak (TPA), serta 2.766 Satuan PAUD Sejenis (SPS). Layanan tersebut didukung 57.805 pendidik, dan telah menjangkau 906.809 peserta didik.

Menurut Sadimin, keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan PAUD tidak hanya berasal dari kalangan pendidik. Sebagian besar penggeraknya ialah kader PKK, kader Posyandu, anggota majelis taklim, pengurus RW, pengurus organisasi keagamaan, hingga masyarakat yang bekerja sebagai petani dan ibu rumah tangga.

“Mayoritas mereka adalah kader PKK, kader Posyandu, anggota majelis taklim, pengurus RW, pengurus organisasi keagamaan, dan lain sebagainya. Kebanyakan mereka juga petani dan ibu rumah tangga, bukan orang-orang yang memiliki penghasilan tetap,” jelasnya.

Sadimin menyampaikan, besarnya peran masyarakat tersebut tidak terlepas dari semangat gotong royong, untuk memastikan anak-anak tetap memperoleh layanan pendidikan di tempat tinggal mereka. Namun, penyelenggaraan PAUD berbasis masyarakat, khususnya di pedesaan dan daerah pedalaman, masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Dia menyebut, terdapat PAUD yang hanya memiliki satu orang pendidik dengan penghasilan ratusan ribu rupiah per bulan. Bahkan, ada lembaga yang hanya memiliki peserta didik kurang dari 12 anak dan belum mempunyai tempat pembelajaran yang layak.

“Ini menunjukkan adanya tekad dan semangat yang kuat dari para pendidik dan masyarakat dalam menyediakan layanan PAUD, agar anak-anak usia 0 sampai 6 tahun di lingkungannya tetap mendapatkan pendidikan,” ungkap Sadimin.

Di sisi lain, terangnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026, jumlah penduduk Jawa Tengah berusia nol hingga enam tahun mencapai 3.613.903 jiwa. Dengan jumlah peserta didik PAUD sebanyak 906.809 anak, layanan pendidikan anak usia dini di Jateng baru menjangkau sekitar 25 persen dari total populasi kelompok usia tersebut.

Sadimin juga memaparkan, Angka Partisipasi Sekolah (APS) PAUD Jateng mencapai 99,37 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 88,38 persen. Sementara itu, Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD tercatat 52,39 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, dan berada di atas capaian nasional.

Meski begitu, menurutnya, capaian tersebut masih di bawah target Bunda PAUD Jateng, Nawal Arafah Yasin, yang sebesar 60 persen. Untuk mengejar target, berbagai program unggulan terus digenjot. Selain PAUD Emas, ada juga program Jateng Sayang PAUD (Jateng Semangat Nyokong PAUD), Sedulor PAUD (Siji Desa Loro PAUD), Cilukba (Cerita lan Dolanan Karo Bapak), dan Kemitraan Semesta.

Sebagaimana visi Ngopeni Bocah Nglakoni Wajib Setahun Prasekolah Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin, keterlibatan masyarakat diharapkan semakin luas sehingga akses dan kualitas pendidikan anak usia dini di Jawa Tengah semakin merata. (At/Ul, Diskomdigi Jateng)

redaksi www.wawasan.news
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI
Baca berita terkini dan terbaru hari ini langsung via smartphone kamu. Pilih saluran Google News dan Ikuti Saluran kami di Whatsapp DISINI